Langsung ke konten utama

Rangkai Kisah #1


Bahkan ketika aku mengakhirinya

            Rabu malam itu mimpi terus menghantuiku. Sambil merogoh isi saku dan mengeluarkan ponsel. Aku terus menerus menatap layar ponsel yang terpanjang wajahmu di sana. Ini sudah lebih dari tiga minggu kau tak ada kabar. Apa kabar? Jantungku selalu berdesir hebat, saat melihat wajahmu. Mungkin ini karena aku begitu rindu ingin bertemu dan jarak ini sudah terlalu lama mengikat aku untuk jauh darimu. 
            Namun sesabar apapun aku bertahan menanti, aku tetap tak berhenti mencari tahu apa yang terjadi. Apakah kau sibuk kuliah, atau memang sedang tidak ingin diganggu. Ada di waktu yang tak bisa lagi ku tahan, aku mencari tahu sendiri. Ternyata kau sudah lama berpaling. Tidakkah ini sedikit melukai hati? Untuk terus mencintai saja aku bisa bertahan, apalagi itu denganmu. Aku menghabiskan waktu-waktuku hanya untuk menunggu kabarmu dan memikirkan apa yang sedang kau lakukan. Perihal cerita manis yang pernah terjadi diantara kita, semua begitu pahit ketika mengingat, aku harus meninggalkannya di belakang.
            Kita berhenti di sini saja kataku. Hatimu tak lagi utuh dan aku tak sudi membaginya dengan yang lain. Aku tak ingin menunggu terlalu lama lagi. Aku pergi karena aku terlalu lelah menghadapi kondisi kita yang tidak terikat apapun.
            Bahkan ketika aku mengakhirinya, hantaman mengenai kisah kita yang sudah terjalin cukup lama terlalu membekas. Karena aku terbiasa berbagi kisah denganmu. Ketika semua sirna aku bingung ingin berbagi dengan siapa. Aku tak mampu menghindari diri dari rasa kecewa namun meski begitu aku masih menyimpan sedikit harapan agar kita bisa bersama.
            Meski langit meminta matahari sepanjang waktu, hujan yang turun dalam hatiku tak jua usai. Saat aku terlanjur jatuh cinta begitu besar, aku kecewa terlalu dalam.



13 Mei 2015
with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...