Bahkan
ketika aku mengakhirinya
Rabu malam itu mimpi terus menghantuiku. Sambil merogoh isi saku dan mengeluarkan ponsel. Aku
terus menerus menatap layar ponsel yang terpanjang wajahmu di sana. Ini sudah
lebih dari tiga minggu kau tak ada kabar. Apa kabar? Jantungku selalu berdesir
hebat, saat melihat wajahmu. Mungkin ini karena aku begitu rindu ingin bertemu
dan jarak ini sudah terlalu lama mengikat aku untuk jauh darimu.
Namun sesabar apapun aku
bertahan menanti, aku tetap tak berhenti mencari tahu apa yang terjadi. Apakah
kau sibuk kuliah, atau memang sedang tidak ingin diganggu. Ada di waktu yang tak
bisa lagi ku tahan, aku mencari tahu sendiri. Ternyata kau sudah lama
berpaling. Tidakkah ini sedikit melukai hati? Untuk terus mencintai saja aku
bisa bertahan, apalagi itu denganmu. Aku menghabiskan waktu-waktuku hanya untuk
menunggu kabarmu dan memikirkan apa yang sedang kau lakukan. Perihal cerita
manis yang pernah terjadi diantara kita, semua begitu pahit ketika mengingat, aku
harus meninggalkannya di belakang.
Kita berhenti di sini saja
kataku. Hatimu
tak lagi utuh dan aku tak sudi membaginya dengan yang lain. Aku tak ingin
menunggu terlalu lama lagi. Aku pergi karena aku terlalu lelah menghadapi
kondisi kita yang tidak terikat apapun.
Bahkan ketika aku mengakhirinya, hantaman mengenai kisah
kita yang sudah terjalin cukup lama terlalu membekas. Karena aku terbiasa berbagi kisah denganmu. Ketika semua
sirna aku bingung ingin berbagi dengan siapa. Aku tak mampu menghindari diri
dari rasa kecewa namun meski begitu aku masih menyimpan sedikit harapan agar
kita bisa bersama.
Meski langit meminta
matahari sepanjang waktu, hujan yang turun dalam hatiku tak jua usai. Saat aku
terlanjur jatuh cinta begitu besar, aku kecewa terlalu dalam.
13 Mei 2015
with love, itijonas
Komentar