Langsung ke konten utama

Rangkai Kisah #2


Hari-hari setelah kita pergi

            Tak terasa sudah hampir dua bulan kita memutuskan komunikasi. Sudah dua bulan aku hanya tidur di rumah tanpa melakukan aktivitas apapun. Sudah dua bulan aku tak menikmati mentari pagi dan menghirup udara baru. Sembari menunggu pengumuman ujian, aku hanya menyesali semuanya. Kau sudah tahu jika aku jatuh cinta semua terlihat seperti drama, namun beginilah yang terjadi padaku setelah kau pergi. Aku tak nyaman berbicara pada semua orang yang terbiasa menanyai kabarmu padaku. Aku hanya mendengar suaramu dalam sela-sela imajinasiku. Aku menjadi pemalas, aku jadi semakin kurus dan terlihat sangat menyedihkan. Aku mengunci semua pendengaranku yang menyangkut namamu, aku berhenti mencari tahu karena aku hanya akan semakin buruk jika melakukannya.
            Sabtu sore saat pengumuman telah disebutkan, aku mendapatkan posisi itu, aku mendapatkan tempat itu. Tempat dimana aku akan mengejarmu dan berjanji untuk mendapatkannya. Aku tak bisa menahan sedikit bahagia ini, sambil membuka laptop aku ingin mengirimkanmu sebuah email. Memberitahumu bahwa aku berhasil, namun ku urungkan niat karena ini bukan lagi berita yang menjadikan kita kembali merajut kisah. Aku menutup laptopku dan duduk di mana kau duduk biasanya. Langit waktu itu penuh bintang, aku merasakan hadirmu. Apa yang harus aku lakukan setelah ini?
            Setelah rasa malas dan perih ini menyelimuti, aku bangkit menata hidupku yang baru. Dan kali ini benar-benar tanpamu. Aku belajar banyak setelah kehilangan ini. Aku mulai belajar mengendarai sepeda motor, aku semakin giat memperlancar permainan gitarku, aku semakin sering bernyanyi, dan semakin sering menulis. Disaat aku melakukan itu semua, aku sedikit melupakan perih ini dan sedikit lupa tentang mu. 

            Aku akan menjadi kuat.


9 Juli 2015
with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...