Sebelum badai, langit begitu
cerah
Sewaktu kita mengenakan
seragam putih biru, kita menjadi begitu lugu dalam memaknai setiap tanda. Hal
yang tidak dimengerti bocah kecil, yang dalam pikirannya hanya bermain dan
bergurau saja. Di waktu itu, kita bertemu.
Kau menjadi sorotan bagi
guru-guru karena kepandaianmu dalam belajar, dan aku bukan siapa-siapa yang
perlu diingat dengan jelas. Di satu poin tertentu aku terkesan denganmu. Aku
terkesan pada pria untuk pertama kalinya. Benar-benar pertama kali, jika kau ingin
tahu. Kau menjadi daya tarik ku untuk sedikit ingin belajar dengan baik, meski
tak juga bisa. Aku mendapatkanmu sebagai seorang teman yang selalu ada, selalu
perhatian dan selalu sabar. Aku menjadikanmu sahabat setelah semua cerita yang
keluar dari mulutku mengendap di kepalamu. Dan kita tidak merubah segala hal.
Kita tetap seperti itu, saling mengejek dan menguatkan. Sampai, aku tahu aku
jatuh cinta untuk pertama kali.
Aku tidak ingin mengingat
kejadian ini, namun otakku selalu memutar kenangan ini seakan ini film yang
harus ku tonton berulang-ulang untuk mengingatkan betapa bodoh aku waktu itu.
Ketika semua terlambat yang ada hanya sesal. Diantara keduanya, aku mengalihkan
perhatian ku darimu. Mencari kisah baru yang mungkin lebih indah, waktu itu aku tidak
begitu patah hati. Karena aku belum mengerti sepenuhnya bagaimana perihal hati.
Setahun, dua tahun, tiga
tahun setelahnya kita bertemu lagi dalam maya. Kita kembali berbagi cerita
tentang hidupku belakangan ini begitu pun denganmu. Kali ini dengan rasa yang
berbeda, aku sudah dewasa dan kau juga. Aku sudah melewati rangkaian patah hati
tapi kau tetap sama. Aku tak pernah menurunkan standarmu sama sekali, kau
selalu menjadi yang terbaik dimataku tanpa kau ketahui. Aku selalu membuka
ruang untukmu masuk jika kau serius. Saat patah hati, kau selalu menjadi obat
yang mengurangi rasa patah hati. Saat bahagia, kau menjadi nada-nada indah yang
menemaniku menjalani hari. Kau merubah cara pandangku padamu dalam waktu
tertentu. Kau membuat aku jatuh cinta lagi dengan caramu yang dulu. Meski aku
tahu, aku terjebak dalam persahabatan ini.
Aku tak pernah menuntutmu
untuk jatuh cinta juga. Aku hanya menikmati semua momen yang kau berikan tanpa perlu
aku minta. Aku hanya jatuh cinta dan fase dimana aku sudah terikat menjadi membutuhkanmu.
Kau yang begitu hangat meski dalam jarak yang mendinginkannya. Kau yang begitu
merdu meski tanpa alunan gitarmu yang menyapa. Kau yang terlalu lucu meski
dalam keadaan dukapun. Dan kau yang selalu merubah mood ku tanpa perlu
melakukan banyak hal.
Pada waktu itu, aku
benar-benar belajar untuk tidak banyak meminta. Pada waktu itu, aku belajar
untuk percaya apapun yang terjadi semua akan baik-baik saja. Pada waktu itu,
aku benar-benar menjadi pribadi yang selalu berfikir positif tentangmu.
31 Desember 2014
with love, itijonas
Komentar