Langsung ke konten utama

Rangkai Kisah #3


Sebelum badai, langit begitu cerah

            Sewaktu kita mengenakan seragam putih biru, kita menjadi begitu lugu dalam memaknai setiap tanda. Hal yang tidak dimengerti bocah kecil, yang dalam pikirannya hanya bermain dan bergurau saja. Di waktu itu, kita bertemu.
            Kau menjadi sorotan bagi guru-guru karena kepandaianmu dalam belajar, dan aku bukan siapa-siapa yang perlu diingat dengan jelas. Di satu poin tertentu aku terkesan denganmu. Aku terkesan pada pria untuk pertama kalinya. Benar-benar pertama kali, jika kau ingin tahu. Kau menjadi daya tarik ku untuk sedikit ingin belajar dengan baik, meski tak juga bisa. Aku mendapatkanmu sebagai seorang teman yang selalu ada, selalu perhatian dan selalu sabar. Aku menjadikanmu sahabat setelah semua cerita yang keluar dari mulutku mengendap di kepalamu. Dan kita tidak merubah segala hal. Kita tetap seperti itu, saling mengejek dan menguatkan. Sampai, aku tahu aku jatuh cinta untuk pertama kali.
            Aku tidak ingin mengingat kejadian ini, namun otakku selalu memutar kenangan ini seakan ini film yang harus ku tonton berulang-ulang untuk mengingatkan betapa bodoh aku waktu itu. Ketika semua terlambat yang ada hanya sesal. Diantara keduanya, aku mengalihkan perhatian ku darimu. Mencari kisah baru yang mungkin lebih indah, waktu itu aku tidak begitu patah hati. Karena aku belum mengerti sepenuhnya bagaimana perihal hati.
            Setahun, dua tahun, tiga tahun setelahnya kita bertemu lagi dalam maya. Kita kembali berbagi cerita tentang hidupku belakangan ini begitu pun denganmu. Kali ini dengan rasa yang berbeda, aku sudah dewasa dan kau juga. Aku sudah melewati rangkaian patah hati tapi kau tetap sama. Aku tak pernah menurunkan standarmu sama sekali, kau selalu menjadi yang terbaik dimataku tanpa kau ketahui. Aku selalu membuka ruang untukmu masuk jika kau serius. Saat patah hati, kau selalu menjadi obat yang mengurangi rasa patah hati. Saat bahagia, kau menjadi nada-nada indah yang menemaniku menjalani hari. Kau merubah cara pandangku padamu dalam waktu tertentu. Kau membuat aku jatuh cinta lagi dengan caramu yang dulu. Meski aku tahu, aku terjebak dalam persahabatan ini.
            Aku tak pernah menuntutmu untuk jatuh cinta juga. Aku hanya menikmati semua momen yang kau berikan tanpa perlu aku minta. Aku hanya jatuh cinta dan fase dimana aku sudah terikat menjadi membutuhkanmu. Kau yang begitu hangat meski dalam jarak yang mendinginkannya. Kau yang begitu merdu meski tanpa alunan gitarmu yang menyapa. Kau yang terlalu lucu meski dalam keadaan dukapun. Dan kau yang selalu merubah mood ku tanpa perlu melakukan banyak hal.
            Pada waktu itu, aku benar-benar belajar untuk tidak banyak meminta. Pada waktu itu, aku belajar untuk percaya apapun yang terjadi semua akan baik-baik saja. Pada waktu itu, aku benar-benar menjadi pribadi yang selalu berfikir positif tentangmu.


31 Desember 2014
with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...