Langsung ke konten utama

bisakah lihat aku sebentar?

apakah cinta itu harus seperti ini? berakhir menyakitkan?
                                   
disaat aku tertegun melihat sosok mu yang selama ini membuat aku jatuh cinta. sosok yang selalu menjadi penyebab kegalauan ku. sosok yang pastinya paling bisa membuat aku meneteskan air mata yaitu sosok yang selama ini aku tunggu untuk kembali. apakah kau bisa melihatku sebentar? lihatlah bagaimana cara aku berpura-pura tegar untuk terlihat kuat di depan mereka. berpura-pura menjadi wanita hebat. inikah takdir? sungguh kejam! 

aku selalu saja memakai topeng dimana dan kapanpun. aku selalu saja tersenyum. tapi selama aku melakukan itu sungguh menyakitkan. hey kamu, bisakah lihat aku sebentar? wanita yang selalu menuggu kembali datang ke dalam kehidupannya yang sekian lama telah usang bagaikan keringnya mawar-mawar itu. menunggu untuk kau sirami dengan sentuhan hangat yang biasanya kau sirami untuk hatiku setiap waktunya. yang membuat perasaan menjadi sungguh hangat. tapi mustahilkah angan-angan itu? kau sungguh jauh disana. bagaimana bisa aku memperlihatkan padamu bagaimana kepedihan hatiku selama ini hanya untuk menunggumu kembali menghangatkan hati yang beku ini. bisakah lihat aku sebentar? untuk hanya sekedar basa-basi menanyakan keadaan ku? wah sepertinya itu tidak mungkin ya. terlihat dengan bagaimana kamu memperlakukan ku. meninggalkan ku tanpa alasan, pergi begitu saja tanpa pamit itukah selama ini yang kau sebut dengan cinta? sungguh menyakitkan!

 bisakah lihat aku sebentar?
tolong lihat luka ini. tolong carikan aku obatnya. tolong katakan padaku apa yang membuat hati ini begitu sakit ketika kau perlakukan ku seperti ini? tolong jangan spesialkan aku jika hanya untuk memberikan iba padaku. tolong jangan berikan aku harapan kosong tentang cinta ini. 
selalu terlintas di benakku untuk menunggu keajaiban. tapi tetap saja belum datang hingga kini. haruskah aku menunggumu seumur hidupku? haruskah aku selalu mengamati keadaanmu di balik pintu harap? ini terlalu membuatku semakin menderita. sudah cukup menyakitkan bagiku menerima kenyataan bahwa kau sudah pergi. cinta ini terlalu menyakitkan . cinta yang dulu dimiliki oleh kedua tangan kini hanya tinggal sebelah. sayap indah cinta yang dulu selalu terbang dengan dua sayap kini telah patah hilang entah kemana. kejam! cinta ini terlalu menyakitkan jiwa-jiwa yang hanya bisa diam dan menunggu serta terlihat lebih tegar dari mereka. menyakitkan!



tak perlu ditanyakan lagi
itu akan selalu kamu yang menjadi penyebab sakit ini
kamu seorang pria yang selalu menjadi orang paling menarik untukku


write by @itijonas





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...