Langsung ke konten utama

Januari dan Kamu :')

mencintaimu dan mencintai rasa sakit itu sama saja INDAH :')

setiap detik waktu yang kurasa semua terlihat begitu buram. bagaikan seorang yang mulai kehilangan penglihatan. Januari awal dari semua perasaan yang pernah kurasakan. Januari adalah cinta yang kini tenggelam dalam romansa kepahitan. terukir satu kenangan dimana saat aku bertemu dengan sesosok makhluk tuhan yang sampai detik ini membuat otakku hilang akal membuat bibirku selalu tersenyum indah saat aku mengingatnya. semua rasa bercampur jadi satu begitu indah dan begitu menyakitkan. Januari adalah kenangan dan Januari itu adalah Kamu. Setiap perasaan, baik itu suka benci atau sayang pati meninggalkan kenangan. Dan kecintaan ku pada Januari tepat saat aku menemukanmu. 

tuhan, apakah Januari dan Dia akan kembali? 
tuhan, kau tau aku tak ingin bersamanya sekarang, karna aku hanya ingin mencintainya selalu dan terus mencintainya.
tuhan, tapi kenapa dia begitu kejam? meninggalkanku dengan perasaan kosong yang menyisahkan luka pada setiap detiknya. luka lama yang masih belum kering yang terlihat begitu mengerikan ketika aku kembali melihatnya. luka itu disebabkan oleh Januari dan Kamu.
teringat cinta itu buta yang selalu membuat perasaanku seperti seorang yang bodoh. pikirkan saja, seberapa pun disakiti masih tetap ingin mencintainya. oh iya, Januari dan Kamu itu seperti dua menara kembar yang ada di Malaysia yang saling terikat sesamanya. ketika Januari memberi bahagia begitu pula Kamu juga memberiku bahagia. Dan ketika Januari mengukir luka dan Kamu bahkan memberi luka yang sangaaat dalam. tapi tenang saja, ini bukan alasanku untuk membenci tapi ini alasanku untuk tetap mencintai. walaupun aku tau aku telah disakiti. tanpa terasa air mata tiada henti mengalir bahkan membuat mata terlihat bengkak. makan susah, tidur pun susah. semuanya berubah sejak kejadian Januari dan Kamu yang membuat ku masih mencintai rasa sakit dan akan selalu mencintai rasa sakit. tak terasa Januari dan Kamu itu mulai menghilang dari hatimu. aku yang bahkan bukan siapa-siapa lagi masih tetap sama menganggap Januari dan Kamu itu adalah "kebahagiaanku" yang sampai kapanpun akan selalu ku ingat sebagai awal aku mulai belajar mencintai dengan tulus karna dia itu Januari dan Kamu :')


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...