Langsung ke konten utama

Bukan Dia tapi Aku

 "sayang..." masih bolehkah aku mengucapkan kata itu kepadamu?

aku yang mencintaimu melebihi diriku.
yang tak pernah bisa membatasi rasa yang begitu dalam untuk mu dan begitu terluka karna kepergianmu. kita yang dahulu saling menyayangi, yang saling bertukar cerita setiap harinya. yang selalu memberi warna dan nuansa yang baru dalam kehidupanku. cinta yang begitu indah yang pernah aku rasakan. cinta yang memberikan ku kekuatan yang begitu kuat. yang selalu membuat ku bisa tersenyum di saat semua dunia menertawakan keadaanku. cinta yang pernah kau beri pada ku yang selalu bisa membuatku bertahan. bertahan dari hina dan caci mereka yang selalau menganggapku lemah bodoh dan sebagainya. sesungguhnya ini bukan suatu kebodohan tapi itu mungkin karna mereka belum merasakan seperti apa bahagianya terus mencintaimu. orang yang jatuh cinta memang selalu berlebihan kok jadi wajar saja.

bukan Dia tapi Aku.
itu yang selalu ingin ku katakan padamu. aku yang selalu mencintaimu. aku yang selalu menaruh harapan besar kepadamu. aku yang selalu ingat apa saja kegiatanmu . aku yang selalu bisa menerima segala kekuranganmu. aku yang selalu ingin menjagamu. bukan Dia tapi Aku !! tidakkah bisa kau lihat sebesar itu harapanku kepadamu? segila ini kah aku akan cinta? cinta yang selalu membuat hatiku campur aduk dan akhirnya selalu hanya berakhir padamu. 

"sayang..." masih bolehkah aku mengucapkan kata itu kepadamu? aku masih ingin mengucapkan kata-kata itu dan aku ingin menunjukkan bahwa aku tak pernah bisa lepas darimu. begitu kuat kau mengikat aku hingga aku untuk melangkah sedetik pun tak bisa. aku masih ingin segala yang pernah kita bicarakan, segala yang kita rencanakan. aku masih ingin mengulangnya dan melanjutkannya. tidak bisakah itu terulang kembali "sayang..?" 

kamu tau aku selalu bepesan "jika kau harus pergi jangan paksa aku untuk mencari yang lain karna aku hanya ingin bersamamu" aku selalu berdoa setiap hari akan keselamatanmu. akan kesehatanmu dan tak lupa aku selalu berdoa agar kau tak pernah melupakanku. aku tau kisah kita hanya berlangsung sebentar. sungguh tak bisa di bandingkan dengan penantian ku. 2 bulan berbanding 2 tahun. itukah? aku selalu ingin bisa menjadi yang terbaik  untuk mu bukan dia, tapi aku. hanya aku.
selama ini aku begitu ingin mencari apa yang bisa membuatmu tertawa, apa yang membuatmu bisa menyukaiku seperti dulu. aku selalu menganalisa setiap kegiatan dan gerak gerikmu. 
ya tuhan, seperti ini kah aku harus mencintaimu? adakah kau berfikir seperti inikah cintaku? ini bukan cinta biasa. ia kan? bukan dia yang seperti ini tapi aku. tidakkah kau merasakannya? tidak pernah kah kau bergetar melihatnya?

harus ku akui, dia lebih dariku. tapi haruskah seperti ini caranya? aku tau kamu begitu menginginkan dia. seseorang yang mungkin bisa mengakhiri kesendirianmu. tapi bolehkah ku katakan bahwa aku tak ingin kau bersamanya? apa aku salah? aku hanya ingin mencintaimu terus dan selalu. egoiskah aku? iya aku tau. tapi salahkah aku yang hanya berharap seperti itu? apa kamu tak menyadari disini sekarang posisiku sangat lemah. aku hanya seorang pengahrap dan pemimpi. mengharapkanmu kembali dan bermimpi kau berada di sampingku selamanya. itu bukanlah kenyataan. itu hanya angan-anganku yang aku tau hal ini takkan pernah tercapai. dan sekarang aku sadar, aku tidak lebih baik. aku hanya bisa pasrah dan mengatakan padamu terima kasih atas semua kenangan yang pernah kau berikan. dan terima kasih telah mengukir cinta yang begitu dalam padaku. tapi sekali lagi ku katakan padamu. bukan Dia tapi Aku :') cinta ini akan bertahan.


aku melihat salah satu lirik ini yang ku kira seperti kisahku saat ini
"tidakkah kau mengenaliku? Alasanku disini adalah dirimu. mataku terpaku, bahkan aku tidak dapat berkata lagi. aku hanya bisa memandangmu sendiri. dan jika pada akhirnya hatiku bergetar juga. jemariku bergetar seperti ini, tapi hanya kaulah seseorang yang aku pikirkan. "seseorang yang begitu kurindukan" kata seperti itulah yang begitu ingin ku dengar dari mulutmu. "aku mencintaimu, aku mencintaimu.. dimana kau? seseorang yang mengukir kenangan mendalam dalam hatiku" dan itu yang selalu ingin ku teriakkan padamu :')



write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...