Langsung ke konten utama

menurutku bahagia itu sederhana


bahagia itu tidak ditentukan pada apa yang kita punya tapi bahagia itu dapat di peroleh dari apa yang kita lakukan. simple

menurutku bahagia itu sederhana,
sesederhana aku mencintaimu. sesederhana aku mengharapkanmu. tanpa membahas sebesar apa rasa cintaku. seperti biasanya, aku dalam tulisan ini akan selalu membahas tentang mu. karna setiap kali ulasan tentangmu itu takkan pernah bisa dibatasi. kali ini aku akan membahas sedikit tentangmu. LAGI

menurutku bahagia itu sederhana,
saat aku tau jatuh cinta, itu sungguh sederhana. dari pandangan mata indah yang terlihat begitu menyilaukan hati dan turun perlahan menyelimuti perasaan haru dan indah itu begitu sederhana sehingga membuat ku tertawa jika mengingatnya.
bahagia itu tidak ditentukan pada apa yang kita punya tapi bahagia itu dapat di peroleh dari apa yang kita lakukan. simple kan.
tak tau jika setiap melihatmu aku merasa bahagia saja. apakah ini yang dinamakan bahagia? begitu sederhana. sedangkan ketika aku mencintaimu dan walaupun itu hanya bertepuk sebelah tangan pun ketika melihatmu tersenyum itu sudah cukup membuatku bahagia walaupun senyum bukan karna ku. 

menurutku bahagia itu sederhana,
seperti aku menulis tentangmu. karna setiap jemari-jemari kecilku menari-nari indah di atas keybord laptop selalu saja penuh bahagia. dengan mengingatmu saja itu sudah membuat jiwa ku teduh. seteduh rasa yang selama ini aku simpan untuk mu.

bahagia itu tak dapat di fikirkan hanya bahagia itu dapat di rasakan dengan segala keadaan yang dilakukan.

mencintaimu, mengharapmu dan menunggumu
itu bahagia
karna bahagia itu sederhana


write by @itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...