Langsung ke konten utama

kau pangeran...


"aku mengenalmu dengan tidak sengaja. aku tak pernah membayangkan semua ini berubah menjadi cinta."

basket.
itulah yang mempertemukan kita. awalnya aku tak pernah memikirkan sesuatu sejauh ini. mulanya aku hanya iseng menyebut-nyebut nama mu dalam pertandingan itu. aku tak berfikiran jauh. mungkin saat itu sebut saja aku adalah seorang penggemarmu. 
hingga malamnya aku teringat dirimu. tiba-tiba dalam keheningan malam terpecah oleh sebuah pesan singkat dari seorang temanku yang mengatakan bahwa ia telah menemukan akunmu dari salah satu jejaring sosial. tanpa pikir panjang aku pun langsung mengajukan permintaan pertemanan padamu dan betapa aneh yang kurasa ketika kau menerima permintaan pertemanan itu oh pangeran.
tak pernah kuduga semua ini akan berlanjut. aku merasakan perasaan ku mulai tumbuh entah bagaimana ia bisa masuk kedalam pintu hatiku yang sempat ku tutup rapat. kau pangeran, mendapatkan celah itu dan kau buka dengan hangatnya senyum sapa mu. ini sungguh membuat ku sedikit berlebihan tapi itulah cinta yang selalu datang dengan kelebihannya.

kita saling bertukar pengalaman masing-masing. bertukar cerita setiap harinya. memberikan kesejukan pada setiap ucapan yang kau lontarkan. semakin lama semakin kau buat ku tergila-gila. kau ucapkan padaku satu kata yang mampu memuat ku terbang hingga langit ke tujuh yaitu "sayang" aku pun seketika meleleh dengan semua kata-kata serta perlakuan mu yang sempat memanjakan ku itu. tapi ada satu hal yang mengganjal dalam batinku. kenapa kau masih saja menyebut mantanmu dalam setiap keadaan kita? tidakkah kau baca betapa perihnya hatiku ketika kau menyebutkan namanya? atau mungkin kau tak merasakan apa-apa kepadaku? apakah ini semua palsu? mungkinkah aku hanya pelarianmu semata?
dan dalam beberapa waktu kau katakan padaku bahwa kau telah kembali kedalam pelukan gadis itu. yang kini kau jadikan permaisurimu. jadi bagaimana dengan aku? bagaimana dengan hubungan kita? haruskah sampai disini, setelah kau rebut hatiku dan kau tinggalkan begitu saja? tidakkah kau berfikir aku ini seorang perempuan yang tak mungkin terus mengejarmu hingga kau tetap berada di sisiku. aku terlalu jauh darimu. haruskah ribuan kilometer itu aku tempuh hanya untuk mengejar dan meminta kepastian hubungan kita?
lalu apa gunanya kata sayang yang selama ini kau ucapakan padaku jika akhirnya ini sangat menyiksa  batinku, mengahcurkan tawaku, merusak pola makanku, dan kau hanya diam dalam keadaan ini seolah aku baik-baik saja? menurutmu apakah itu mungkin?

dalam heningnya malam aku menjeritkan semuanya dengan tangis, dan hanya dengan sebuah tangis yang menjadi senjata ampuh bagiku untuk menutupi perasaan sakit yang telah kau buat pangeran. hatiku bagai menghantam sebuah tembok yang begitu keras hingga hati ini telah hancur berkeping-keping. tapi hingga kini kau selalu datang dalam setiap mimpiku. disana kau selalu menjadi pangeran termanis yang selalu menjadikanku permaisuri dalam hatimu tapi ketika aku membuka mata semuanya begitu berbeda, sirna dalam seketika. aku bukanlah permaisuri itu tapi aku hanya seorang gadis biasa yang hanya bisa menanti kepastian dari pangeran yang entah sampai kapan akan melabuhkan cintanya pada gadis seperti ku dan tak terasa aku mulai terbiasa bermain dalam rasa sakit yang kau berikan pangeran dan jika ini takdir, seperti ini kah sakitnya? bukankah takdir itu selalu menghasilkan drama yang indah? akankah aku akan merasakan kenyataannya? akan kah takdir itu menuliskan aku harus bertemu dan mencintaimu saja? atau bahkan lebih dari itu? kenyataannya kini takdir yang sedang ku jalani begitu sakit. hingga aku mulai lelah dengan sebuah penantian, mulai jengah dengan keadaan dan mulai mencoba untuk menghindari semua takdir ini. 

hanya satu pertanyaan untukmu pangeran,
akankah kau mengizinkan ku menjadi permaisuri mu itu?


untukmu pangeran yang selalu membuat gundah hatiku
untukmu pangeran yang selalu menjatuhkan air mataku
dan untukmu pangeran yang selalu membuat ku menunggu kepastian


recommendation by friend RSU

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...