Jika di ceritakan kembali kisah-kisah yang sudah berlalu, aku ingin sekali lagi menceritakan kisah tentang sekeping masa lalu yang pernah singgah di dalam perjalanan hidupku. Dan ini tentang dia, lelaki yang memberi ku pembelajaran tentang luka.
Dia,
sesosok anak lelaki yang tidak begitu tampan jika di bandingkan dengan lelaki
lain yang pintar bersolek. Dia hanya sesosok lelaki yang memiliki senyum khas,
yang bisa membuatku mabuk asmara jika membayangkannya. Lelaki ini sebut saja dia sebagai
cinta pertama.
Dulu,
aku begitu berbahagia memilikinya. Aku bahkan telah meyakinkan cinta seutuhnya
untuk dia. Sampai-sampai aku berniat untuk terus mencintai kekurangannya. Aku yang
di saat itu benar-benar terbuai akan yang namanya cinta, seketika lupa untuk
memikirkan perasaan ku sendiri. Dan saat dia memilih untuk pergi, aku tak bisa
berkata apa-apa. Aku tak sanggup menahan sesak yang telah dia ciptakan. Saat itu
aku terjatuh, jauh di dasar, tenggelam bersama bayang-bayang nya yang juga ikut
tenggelam bersama sakit ku. Raga ku seakan tak ada di tubuh. Aku terdiam. Aku terlena. Hingga
butiran-butiran hangat jatuh membasahi pipi ku. Seketika aku merasa jantung ku
berhenti untuk berdetak, nafas ku tertahan di tenggorokan, pandanganku kosong,
hitam dan menggelap. Sekali lagi ku katakan, aku terjatuh.
Detik
ke menit. Menit ke jam. Jam ke hari. Hari ke bulan. Dan bulan ke tahun. Begitulah
hari-hari ku lewati sudah tanpa sosok nya di samping ku. Kala itu, dia hanyalah
satu-satunya tujuanku. Menaruh mimpi besar kepadanya. Menggantung harapan pada
setiap detak jantungnya. Dan kala itu aku buta, aku tidak bisa melihat apa-apa
selain dia. Setiap hari, tak bosan-bosan aku berdoa kepada-Nya, meminta
untuk menjaga kesehatan lelaki itu. Meminta untuk melihat senyum lelaki itu setiap hari. Aku bahkan
rela, menepikan rasa sakit yang kian lama semakin menggerogoti. Menahan amarah, ketika aku melihatnya mencoba mencari pengganti. Meredam semua tangis
dalam-dalam, agar dia tak menilai ku lemah. Aku selalu berjuang agar terlihat
baik di depannya. Aku berjuang dengan semua hal-hal yang bertolak belakang
dengan kepribadian ku, menjadi lebih dewasa seperti harapannya dulu. Aku mencoba
hal-hal baru untuk memperlihatkan padanya bahwa aku juga bisa menjadi yang
terbaik. Memberikan perhatian lebih kepada pelajaran-pelajaran untuk memacu nya
dalam segi akademik. Lagi-lagi hanya untuk membuktikan padanya aku bisa di
andalkan.
Tapi,
semua yang aku lakukan sia-sia. 'Menurutku kala itu'. Aku sama sekali tidak bisa
memenangkan hatinya kembali. Aku tidak bisa membuat dia melihat ke arah ku lagi.
Dia sudah berjalan lurus, jauh dan sangat sulit untuk ku gapai. Semakin hari
luka yang dia berikan semakin terlihat jelas. Aku putus asa. Aku menyerah. Aku telah
begitu lama berjuang, aku telah begitu banyak berkorban, aku telah begitu
sering mengalah. Aku kehilangan pegangan. Dan lagi-lagi aku terjatuh. Aku tak
bisa lagi merasakan cinta yang lain, semuanya hambar. Tak ada yang bisa
memenangkan hatiku kala itu. Aku sudah terlalu terjerat pada cinta bodoh
seperti itu. Aku membiarkan diriku terluka, terlena. Aku bahkan tak pernah
berusaha memperbaiki hatiku yang telah terluka. Aku hanya mencoba bertahan
dalam rasa sakit.
Dan
hingga kala itu, dia kembali datang untuk mencoba membuka topik padaku. waktu
itu ku pikir, aku sudah mendapatkan titik terang. Tapi semua malah sebaliknya. Dia
datang kembali hanya untuk mengatakan pada ku bahwa, dia tidak bisa kembali. Mengatakan
bahwa semua usaha ku percuma dan hanya sia-sia. Memberi saran padaku, untuk
segera mencari penggantinya. Dan satu kalimat yang masih terngiang di otak ku. Membuat
ku serasa di hantam, hatiku pecah, hancur, berantakan. “maaf hatiku telah berubah”.
Deraian air
mata tak mampu lagi bersembunyi. Mereka tumpah, tak bisa terbendung dengan senyum kepalsuan. Aku
merintih kesakitan, dada ku sesak. Aku benar-benar sudah mati. Begitulah pemikiran ku.
Dengan gampang dia berkata padaku, bahwa aku harus menyerah saja. Hingga rasa
cinta yang menjalar selama bertahun ini hanya di anggap permainan anak kecil
yang tak perlu di tanggapi. Aku marah, aku murka. Aku merasa semua yang ku
lakukan, semua yang ku usahakan, semua yang ku upayakan terasa begitu percuma. Aku
merasa semua sia-sia menghabiskan waktu hanya untuk menunggu lelaki seperti
dia. Aku merasa bodoh telah mencintai dia dengan penuh harapan. Aku merasa di
asingkan. Hingga ketika aku bersujud ke pada Sang Maha Esa, meminta petunjuk
bagaimana semua rasa ini begitu sakit. Meminta untuk sedikit lebih bersabar
bahwa aku sudah lelah dengan semua cinta-cinta yang begitu menyesakkan dada.
Kini,
aku sudah menemukan jawaban atas semua doa ku. Aku telah mengerti apa maksud
dari jalan tuhan yang mengukir luka pada hatiku. Agar aku bisa lebih dewasa dalam
mengambil keputusan. Agar bisa lebih kuat dari apa yang telah di gariskan. Aku sadar,
ini bukan sepenuhnya salah lelaki itu, dan bukan juga pembenaran untuk dia. Hanya
saja, mungkin jalan tengah lebih baik dari pada harus memilih jalan kiri
atau pun kanan. Kini, dia hanya sekeping masa lalu yang membuat ku belajar dari semua kesalahan, dari semua kegagalan, dan dari semua rasa sakit. Aku
juga mengerti, dia tak selamanya mengukir luka pada hatiku, dia juga sempat
membuatku menjadi seseorang yang beruntung, hanya saja kini dia hanya sekeping
masa lalu, yang sudah tidak ada, tapi telah memberi bekas dalam perjalanan
hidupku. Aku beruntung bisa belajar dari semuanya, aku belajar untuk tidak lagi
bergantung pada cinta, menaruh harap yang terlalu tinggi atau bahkan bermimpi
untuk terus menggenggam kebahagiaan bersama cinta itu sendiri. Adakalanya, luka tak hanya sekedar luka yang
membekas. Luka juga mengajarkan arti kehidupan.
jika kau hanya di takdir kan menjadi masa lalu, biarlah kau hanya sebagai masa lalu. aku tak mengharapkan semua berputar kembali. aku tau semua tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. hanya saja, aku berharap kau tetaplah menjadi kepingan masa lalu.
Tidak akan datang lagi untuk kini atau pun nanti
write by @istiqasuwondo
Komentar