Langsung ke konten utama

Hanya sekeping masa lalu


 Jika di ceritakan kembali kisah-kisah yang sudah berlalu, aku ingin sekali lagi menceritakan kisah tentang sekeping masa lalu yang pernah singgah di dalam perjalanan hidupku. Dan ini tentang dia, lelaki yang memberi ku pembelajaran tentang luka.

Dia, sesosok anak lelaki yang tidak begitu tampan jika di bandingkan dengan lelaki lain yang pintar bersolek. Dia hanya sesosok lelaki yang memiliki senyum khas, yang bisa membuatku mabuk asmara jika membayangkannya. Lelaki ini sebut saja dia sebagai cinta pertama.

Dulu, aku begitu berbahagia memilikinya. Aku bahkan telah meyakinkan cinta seutuhnya untuk dia. Sampai-sampai aku berniat untuk terus mencintai kekurangannya. Aku yang di saat itu benar-benar terbuai akan yang namanya cinta, seketika lupa untuk memikirkan perasaan ku sendiri. Dan saat dia memilih untuk pergi, aku tak bisa berkata apa-apa. Aku tak sanggup menahan sesak yang telah dia ciptakan. Saat itu aku terjatuh, jauh di dasar, tenggelam bersama bayang-bayang nya yang juga ikut tenggelam bersama sakit ku. Raga ku seakan tak ada di tubuh. Aku terdiam. Aku terlena. Hingga butiran-butiran hangat jatuh membasahi pipi ku. Seketika aku merasa jantung ku berhenti untuk berdetak, nafas ku tertahan di tenggorokan, pandanganku kosong, hitam dan menggelap. Sekali lagi ku katakan, aku terjatuh.

Detik ke menit. Menit ke jam. Jam ke hari. Hari ke bulan. Dan bulan ke tahun. Begitulah hari-hari ku lewati sudah tanpa sosok nya di samping ku. Kala itu, dia hanyalah satu-satunya tujuanku. Menaruh mimpi besar kepadanya. Menggantung harapan pada setiap detak jantungnya. Dan kala itu aku buta, aku tidak bisa melihat apa-apa selain dia. Setiap hari, tak bosan-bosan aku berdoa kepada-Nya, meminta untuk menjaga kesehatan lelaki itu. Meminta untuk melihat senyum lelaki itu setiap hari. Aku bahkan rela, menepikan rasa sakit yang kian lama semakin menggerogoti. Menahan amarah, ketika aku melihatnya mencoba mencari pengganti. Meredam semua tangis dalam-dalam, agar dia tak menilai ku lemah. Aku selalu berjuang agar  terlihat baik di depannya. Aku berjuang dengan semua hal-hal yang bertolak belakang dengan kepribadian ku, menjadi lebih dewasa seperti harapannya dulu. Aku mencoba hal-hal baru untuk memperlihatkan padanya bahwa aku juga bisa menjadi yang terbaik. Memberikan perhatian lebih kepada pelajaran-pelajaran untuk memacu nya dalam segi akademik. Lagi-lagi hanya untuk membuktikan padanya aku bisa di andalkan.

Tapi, semua yang aku lakukan sia-sia. 'Menurutku kala itu'. Aku sama sekali tidak bisa memenangkan hatinya kembali. Aku tidak bisa membuat dia melihat ke arah ku lagi. Dia sudah berjalan lurus, jauh dan sangat sulit untuk ku gapai. Semakin hari luka yang dia berikan semakin terlihat jelas. Aku putus asa. Aku menyerah. Aku telah begitu lama berjuang, aku telah begitu banyak berkorban, aku telah begitu sering mengalah. Aku kehilangan pegangan. Dan lagi-lagi aku terjatuh. Aku tak bisa lagi merasakan cinta yang lain, semuanya hambar. Tak ada yang bisa memenangkan hatiku kala itu. Aku sudah terlalu terjerat pada cinta bodoh seperti itu. Aku membiarkan diriku terluka, terlena. Aku bahkan tak pernah berusaha memperbaiki hatiku yang telah terluka. Aku hanya mencoba bertahan dalam rasa sakit.

Dan hingga kala itu, dia kembali datang untuk mencoba membuka topik padaku. waktu itu ku pikir, aku sudah mendapatkan titik terang. Tapi semua malah sebaliknya. Dia datang kembali hanya untuk mengatakan pada ku bahwa, dia tidak bisa kembali. Mengatakan bahwa semua usaha ku percuma dan hanya sia-sia. Memberi saran padaku, untuk segera mencari penggantinya. Dan satu kalimat yang masih terngiang di otak ku. Membuat ku serasa di hantam, hatiku pecah, hancur, berantakan. “maaf hatiku telah berubah”.
Deraian air mata tak mampu lagi bersembunyi. Mereka tumpah, tak bisa terbendung dengan senyum kepalsuan. Aku merintih kesakitan, dada ku sesak. Aku benar-benar sudah mati. Begitulah pemikiran ku. Dengan gampang dia berkata padaku, bahwa aku harus menyerah saja. Hingga rasa cinta yang menjalar selama bertahun ini hanya di anggap permainan anak kecil yang tak perlu di tanggapi. Aku marah, aku murka. Aku merasa semua yang ku lakukan, semua yang ku usahakan, semua yang ku upayakan terasa begitu percuma. Aku merasa semua sia-sia menghabiskan waktu hanya untuk menunggu lelaki seperti dia. Aku merasa bodoh telah mencintai dia dengan penuh harapan. Aku merasa di asingkan. Hingga ketika aku bersujud ke pada Sang Maha Esa, meminta petunjuk bagaimana semua rasa ini begitu sakit. Meminta untuk sedikit lebih bersabar bahwa aku sudah lelah dengan semua cinta-cinta yang begitu menyesakkan dada.

Kini, aku sudah menemukan jawaban atas semua doa ku. Aku telah mengerti apa maksud dari jalan tuhan yang mengukir luka pada hatiku. Agar aku bisa lebih dewasa dalam mengambil keputusan. Agar bisa lebih kuat dari apa yang telah di gariskan. Aku sadar, ini bukan sepenuhnya salah lelaki itu, dan bukan juga pembenaran untuk dia. Hanya saja, mungkin jalan tengah lebih baik dari pada harus memilih jalan kiri atau pun kanan. Kini, dia hanya sekeping masa lalu yang membuat ku belajar dari semua kesalahan, dari semua kegagalan, dan dari semua rasa sakit. Aku juga mengerti, dia tak selamanya mengukir luka pada hatiku, dia juga sempat membuatku menjadi seseorang yang beruntung, hanya saja kini dia hanya sekeping masa lalu, yang sudah tidak ada, tapi telah memberi bekas dalam perjalanan hidupku. Aku beruntung bisa belajar dari semuanya, aku belajar untuk tidak lagi bergantung pada cinta, menaruh harap yang terlalu tinggi atau bahkan bermimpi untuk terus menggenggam kebahagiaan bersama cinta itu sendiri. Adakalanya, luka tak hanya sekedar luka yang membekas. Luka juga mengajarkan arti kehidupan.


jika kau hanya di takdir kan menjadi masa lalu, biarlah kau hanya sebagai masa lalu. aku tak mengharapkan semua berputar kembali. aku tau semua tak semudah seperti membalikkan telapak tangan. hanya saja, aku berharap kau tetaplah menjadi kepingan masa lalu.
Tidak akan datang lagi untuk kini atau pun nanti 


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...