Langsung ke konten utama

Pelangi di malam hari. mungkinkah?


Mungkin terlambat. Aku sudah salah dalam mengartikan segalanya. Cinta, sedih, bahagia, semuanya berada dalam satu paket yang aku tak mengerti itu apa. Kau sadar aku bukan wanita satu-satunya. Kau juga sadar aku bukan wanita terbaik. Dan kau juga tau aku bukan menjadi prioritas pertama. Tapi apa kau sadar? Cinta itu buta. Jika ku ulang kembali kisah dulu, dimana aku telah berada di titik terendah yang tak lagi mengenal cinta. Dimana cinta sudah menjadi halangan ku untuk tersenyum. Dimana cinta sudah menjadi kebencian batin yang melanda hari-hari ku. Dimana cinta sudah menjadi bahan permainan ku seperti cinta sebelumnya yang selalu mempermainkan rasa ku. Kau yang pertama membuatku kembali merasakan cinta yang manis. Setelah sekian lama pahit bermain-main dalam indra perasa ku, Kau beri ku gula hingga aku bisa mengecap manis yang kau berikan. Tidak kah kau sadar itu seperti hal terbesar yang pernah kau lakukan untukku? Apakah salah aku telah menjadikan mu satu-satunya yang berada dalam pengharapan ku? Jika kau masih belum percaya, sungguh aku telah meletakkan mu di dasar hati. Kau tidak pernah pergi dari dana. Setiap hari kau yang mengatur perasaan ku, karena kau ada di sana setiap hari, bahkan setiap detik hanya kau yang mampu menghiasi hari-hari ku. Baik itu bahagia atau pun rasa sakit. Dan kau juga harus tau selama kau pergi, aku belum bisa berpaling.
                Mungkin banyak yang bilang “kalau cinta tidak ada kata terlambat” berlakukah untuk kita? Disaat semua manusia dapat merasakan indahnya maha karya terbesar tuhan dengan sempurna. Aku hanya disini sendiri, masih di tempat ini, menunggu mu kembali. Memutar kembali segala memori manis yang pernah terjadi. Membayangkan bahagia menyelimuti percintaan kita. Dimana semua orang melihat kita. Tapi itu dulu. Dulu, yang sudah terlalu jauh. Dan dulu, yang sudah terlupa. Tapi, kesempatan tidak bisa kah datang untuk kita? Sekali lagi saja? Apa maksud tuhan menjadikan “egoisme” menjadi penghalang untuk bersatu? Dari semua dan berjuta hal kenapa harus dengan satu kata singkat seperti itu yang mampu memusnahkan semua cerita manis yang di kemas dalam bahagia itu? Tidak bisa kah kata “egoisme” seperti itu hilang dari kata-kata di bumi ini?
                Andaikan aku dan kamu menjadi kita seperti dulu. Andaikan aku dan kamu menjadi cinta seperti dulu. Andaikan. Andaikan. Dan andaikan. Wanita seperti ku sungguh mahir jika berandai-andai. Apalagi itu tentang kamu. Aku belum bisa mengerti rasa apa yang singgah kini. Tapi yang jelas aku kehilangan mu. Sikapmu dan sikapku bertolak belakang. Tapi bukankah dari perbedaan itu kita bisa belajar arti pendewasaan. Tapi kenapa kita sangat sulit melaluinya? Dan satu hal lagi yang membuat aku ingin menumpah kan segala resah ini, kenapa kau memilih untuk berjarak? Bahkan jarak itu sudah termasuk dalam kategori yang sungguh berjarak! Berbeda benua. Maksudmu apa? Apa kau ingin aku menunggu mu lebih lama lagi? Apa kau ingin melihat ku merintih kesakitan dalam jarak yang akan kau bentang? Sedangkan kau masih di sekitaran ku saja, aku sudah lelah menahan rasa. Apalagi nanti? Jarak benua yang kau persembahkan semakin membuatku gila. Aku ingin semuanya kembali normal tuhan! Aku ingin semuanya kembali. Jangan buat aku merasa asing seperti ini. Aku tidak ingin terbiasa berlari-lari dalam sakit ini. Aku ingin kau kembali padaku, sekali lagi saja. Aku ingin “egoisme” itu runtuh dengan kata-kata cinta yang selalu kau berikan untuk ku. Kita akan melihat pelangi di malam hari. Jika itu mustahil kita bisa membuatnya. Kau hanya berada di sisiku sudah menjadi indah karena kau tau. Pelangi ku adalah kau!  

Aku tak pernah pergi. Dan belum bisa menjarak. Aku bisa setia dalam kekecewaan. Aku bisa bertahan dalam sakit yang kau ciptakan. Aku bisa menunggu lebih lama. Hanya saja aku kini aku bingung. Kompas ku patah. Arah ku melenceng. Aku butuh kamu di sini, seperti dulu. Perbaiki hatiku dan jangan pergi lagi.. 


recommendation  story by friend "SAR"


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...