Mungkin terlambat.
Aku sudah salah dalam mengartikan segalanya. Cinta, sedih, bahagia, semuanya
berada dalam satu paket yang aku tak mengerti itu apa. Kau sadar aku bukan
wanita satu-satunya. Kau juga sadar aku bukan wanita terbaik. Dan kau juga tau
aku bukan menjadi prioritas pertama. Tapi apa kau sadar? Cinta itu buta. Jika
ku ulang kembali kisah dulu, dimana aku telah berada di titik terendah yang tak
lagi mengenal cinta. Dimana cinta sudah menjadi halangan ku untuk tersenyum.
Dimana cinta sudah menjadi kebencian batin yang melanda hari-hari ku. Dimana
cinta sudah menjadi bahan permainan ku seperti cinta sebelumnya yang selalu
mempermainkan rasa ku. Kau yang pertama membuatku kembali merasakan cinta yang
manis. Setelah sekian lama pahit bermain-main dalam indra perasa ku, Kau beri ku
gula hingga aku bisa mengecap manis yang kau berikan. Tidak kah kau sadar itu
seperti hal terbesar yang pernah kau lakukan untukku? Apakah salah aku telah menjadikan
mu satu-satunya yang berada dalam pengharapan ku? Jika kau masih belum percaya, sungguh
aku telah meletakkan mu di dasar hati. Kau tidak pernah pergi dari dana. Setiap
hari kau yang mengatur perasaan ku, karena kau ada di sana setiap hari, bahkan
setiap detik hanya kau yang mampu menghiasi hari-hari ku. Baik itu bahagia atau
pun rasa sakit. Dan kau juga harus tau selama kau pergi, aku belum bisa
berpaling.
Mungkin
banyak yang bilang “kalau cinta tidak ada
kata terlambat” berlakukah untuk kita? Disaat semua manusia dapat merasakan
indahnya maha karya terbesar tuhan dengan sempurna. Aku hanya disini sendiri,
masih di tempat ini, menunggu mu kembali. Memutar kembali segala memori manis
yang pernah terjadi. Membayangkan bahagia menyelimuti percintaan kita. Dimana semua
orang melihat kita. Tapi itu dulu. Dulu, yang sudah terlalu jauh. Dan dulu,
yang sudah terlupa. Tapi, kesempatan tidak bisa kah datang untuk kita? Sekali
lagi saja? Apa maksud tuhan menjadikan “egoisme” menjadi penghalang untuk
bersatu? Dari semua dan berjuta hal kenapa harus dengan satu kata singkat
seperti itu yang mampu memusnahkan semua cerita manis yang di kemas dalam
bahagia itu? Tidak bisa kah kata “egoisme” seperti itu hilang dari kata-kata di
bumi ini?
Andaikan
aku dan kamu menjadi kita seperti dulu. Andaikan aku dan kamu menjadi cinta
seperti dulu. Andaikan. Andaikan. Dan andaikan. Wanita seperti ku sungguh mahir
jika berandai-andai. Apalagi itu tentang kamu. Aku belum bisa mengerti rasa apa
yang singgah kini. Tapi yang jelas aku kehilangan mu. Sikapmu dan sikapku
bertolak belakang. Tapi bukankah dari perbedaan itu kita bisa belajar arti
pendewasaan. Tapi kenapa kita sangat sulit melaluinya? Dan satu hal lagi yang
membuat aku ingin menumpah kan segala resah ini, kenapa kau memilih untuk
berjarak? Bahkan jarak itu sudah termasuk dalam kategori yang sungguh berjarak!
Berbeda benua. Maksudmu apa? Apa kau ingin aku menunggu mu lebih lama lagi? Apa
kau ingin melihat ku merintih kesakitan dalam jarak yang akan kau bentang?
Sedangkan kau masih di sekitaran ku saja, aku sudah lelah menahan rasa. Apalagi
nanti? Jarak benua yang kau persembahkan semakin membuatku gila. Aku ingin
semuanya kembali normal tuhan! Aku ingin semuanya kembali. Jangan buat aku
merasa asing seperti ini. Aku tidak ingin terbiasa berlari-lari dalam sakit
ini. Aku ingin kau kembali padaku, sekali lagi saja. Aku ingin “egoisme” itu
runtuh dengan kata-kata cinta yang selalu kau berikan untuk ku. Kita akan
melihat pelangi di malam hari. Jika itu mustahil kita bisa membuatnya. Kau
hanya berada di sisiku sudah menjadi indah karena kau tau. Pelangi ku adalah
kau!
Aku tak pernah pergi. Dan belum bisa menjarak. Aku bisa setia dalam kekecewaan. Aku bisa bertahan dalam sakit yang kau ciptakan. Aku bisa menunggu lebih lama. Hanya saja aku kini aku bingung. Kompas ku patah. Arah ku melenceng. Aku butuh kamu di sini, seperti dulu. Perbaiki hatiku dan jangan pergi lagi..
recommendation story by friend "SAR"
write by @istiqasuwondo
Komentar