Langsung ke konten utama

menunggumu lebih lama lagi? aku menyerah

"jika cintamu sudah pudar hari ini, katakan saja. jangan coba kau tutupi. bukan hanya hatimu yang risih tapi hatiku juga tersakiti"

kau yang selalu memberiku berbagai macam sugesti untuk selalu tersenyum. memberiku mimpi-mimpi yang indah. menjanjikan masa depan bahagia untuk ku. dengan mudahnya kau mengatakan segalanya. dengan raut meyakinkan kau katakan segalanya. kau buat ku percaya dengan itu semua. ini karena kebodohan ku atau karena kecintaan ku padamu yang terlalu besar yang membuat ku begitu saja percaya. waktu demi waktu tanpa hubungan apapun kau menjanjikan itu. tapi apa kau sadar sesungguhnya itu menyakitiku? dan dengan jiwa besar aku memaafkan itu.


kau katakan kau mencintaiku dengan seluruh hatimu. kau selalu menghalangi keinginanku untuk jauh darimu. kau bujuk aku dengan semua kata manismu. aku tau kau memang mencintaiku dengan seluruh jiwamu, tapi itu dulu. dulu ketika aku selalu memalingkan wajahku untukmu. dulu ketika aku tak pernah ingin mengingatmu. dulu yang sudah lama sekali. tapi kini lihatlah, aku sudah terlalu memperhatikanmu. kenangan-kenangan bodoh yang indah itu, selalu terngiang jelas di otakku. berputar-putar hingga menghasilkan senyuman dibibir. tapi, ku rasa kini hatimu berubah. tapi, kau selalu saja mengelakkannya. kau selalu saja berkata tidak. sedangkan bukti yang kau perankan selalu berkata iya. tanpa sadar kau lebih memilih dia dari pada memilihku, tapi kau selalu saja berjanji untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang kau janjikan. kau selalu menyuruhku untuk bersabar. kau selalu meminta ku untuk menunggu mu. tapi kalau aku boleh tau untuk berapa lama lagi? permintaan mu ini salah! salah besar! 

kau berfikir mungkin karena aku mencintaimu dengan setulus hatiku, jadi kau bisa dengan begitu seenaknya bermain-main dengan perasaanku. jika aku ingin pergi, kau selalu mengungkit kesalahan ku yang membuatku kembali merasa bersalah. dengan mengeluarkan raut lemas mu kau berkata "jangan pergi". sesungguhnya untuk apa kau terus berkata seperti itu? menahan jalan ku. membutakan penglihatanku. kau hanya berfikir akan sakitmu saja, sedang kau sendiri tak melihat bagaimana aku bersusah payah menyembunyikan luka ini. luka di saat kau menjadi pengecut dengan memilih dia, dan menyuruhku untuk menunggu mu. kau melakukan kesalahan fatal! sangat fatal! kau harus sadar aku perempuan. sekuat apa pun aku menahan segalanya, sisi rapuh dalam diriku takkan pernah hilang, air mataku masih bisa terjatuh. 

tolong, jangan janjikan aku mimpi-mimpi itu lagi. jangan tahan langkah ku untuk pergi. dan jangan buat aku menjadi semakin buruk lagi. jangan membuatku berharap tanpa ada kepastian, aku tidak membutuhkan itu, percuma saja kamu menahanku, jika sesungguhnya hatimu tak lagi ada untukku. jika hatimu sudah tergantikan oleh dia, maka lepaskan aku untuk pergi. aku menunggu itu ketika kau ikhlas membiarkan ku menghirup dunia yang sedang ku cari. aku sudah lelah dengan situasi ini. aku sudah jengah dengan mimpi-mimpi ini. jika kau menyuruhku sekali lagi untuk menunggumu, maaf aku menyerah

write by @istiqasuwondo


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karena kau pantas mencari penggantinya

“kamu bertahan untuk apa? Memutar waktu? Membalikkan hati manusia yang sudah tak mengingatmu?” seru Anita  Dalam rintikan hujan, Dinda termenung memikirkan setiap rangkaian kata dari Anita. Dalam pikirannya hanya bermain-main satu orang laki-laki yang sejak dulu tak ingin ia lupakan.   Ia bertahan karena ia percaya bahwa keajaiban akan mengembalikan hati lelaki itu. Ia tak pernah bosan untuk bertahan menanti, walau ia tau bagaimana rasanya di abaikan berkali-kali. Andai waktu dapat menjawab hati manusia lebih cepat, penantian mungkin takkan pernah berujung lama dan penuh tanda tanya seperti yang terjadi pada setiap manusia saat ini. Andai rasa bisa di hapus dengan lebih cepat tanpa harus menunggu waktu, pasti tak banyak manusia yang merasakan luka dan rasa iba setiap saat. Tapi, waktu terlalu sering bermain-main hingga ia berlama-lama mengguncang hati manusia setiap kali manusia terluka. *** “bagaimana sudah berfikiran jernih?” tanya Anita tiba-tiba “ti...

saya bercerita sedikit

  hello semua para pembaca, ini cerita saya kemarin 8. Oktober 2013 selamat membaca dan melihat beberapa foto yang tertera :)   cerita kemarin, kemarau sudah mulai menampakkan jati dirinya. pepohonan mulai menguning dan gugur satu per satu. udara yang begitu dingin membuat tubuh sedikit menggigil. namun tidak menghalangi niat saya untuk terus berjalan dan mencari tahu seluk-beluk kota ini. ini dia salah satu taman kota yang terletak tidak jauh dari tempat tinggal saya.  -Ronaldstrasse- haltestelle berkunjung kesana untuk pertama kalinya, dengan modal nekat tanpa tau tempat lebih tepatnya. berjalan bersama seorang teman sehabis pulang kursus, setidaknya melupakan sedikit beban kepala yang begitu menumpuk. balik lagi, taman ini sewaktu saya berkunjung tidak begitu ramai, mungkin di karenakan masih terlalu siang, banyaknya pohon membuat rindang taman ini, saya tidak banyak memotret tapi coba lihat beginilah kira-kira keadaan taman yang saya kunju...

kau biarkan aku berperang sendirian

tulisan ini terbentuk dari potongan-potongan perasaan yang tak bisa ku utarakan. saat itu menilai diriku dan kamu hanyalah bentuk ketidakdewasaan. namun setelah ku telusuri segala sisi dari hidupku, melihat dari sisi terluar perasaan kita, lingkungan baru membuat cara pandangku semakin berbeda. patutlah aku beranjak lebih cepat. depalan tahun lalu, sebelum kita memutuskan untuk saling memaafkan lagi. kita punya misi yang baik untuk dapat ku percaya bahwa ini adalah terakhir kalinya. kau terjebak dengan pesona masa lalumu ini, aku terjebak dengan kata cinta yang selalu kau utarakan berkali-kali. sekejap kita bagaikan simpul tali yang terikat dengan erat. hari-hariku bersamamu adalah waktu dimana aku berusaha menyesuaikan diri, meninggalkan ego di kantong belakang, agar janji tersebut dapat terlaksana. ku beri kau seluruh dunia, agar semangatmu tak lagi hilang. ku beri kau seluruh cinta agar sepimu tak lagi datang. ku beri kau waktu yang berlimpah, agar kau tak perlu menanggung rindu. sa...