Langsung ke konten utama

penyair hujan kelabu

matahari nan terik dengan gagahnya ia berdiri di jendela langit
mengukir lelah serta amarah dari atas sana
meminta manusia untuk terus bekerja, belajar, dan bersabar
tanpa diduga sang kelabu dengan sigap mengambil alih semua pekerjaannya
mengubah terik menjadi gelitikan angin yang menyejukkan
semua manusia bersyukur
dunia tak lagi terik, tapi dunia kini kelabu

aku yang sedari tadi tak bosan melihat keakuan alam ini
hanya tertawa kecil melihat manusia-manusia yang tengah bersyukur
aku tak bisa mengumpamakan apa-apa
aku hanya bisa bersajak
bersajak mengenai sang kelabu
memaknai setiap detik anugerah yang ia cipratkan dalam suasana senyap
aku hanya bisa bersajak
menunggu sang kelabu melunturkan kegagahannya
turunkan hujan!

banyak manusia membenci kehadiran hujan
berdoa untuk segera melihat titik ini hilang
mereka bilang hujan adalah penghambat
mereka bernalar hujan adalah bencana
tanpa mereka fikir kembali hujan adalah nyawa
nyawa untuk mereka yang mencintai hujan
nyawa untuk tanaman yang tak kalian beri makan
nyawa untuk binatang yang tak punya majikan
berargument lah sekali lagi tentang hujan dan kelabu
mereka berdua takkan bisa di pisahkan
mereka beriringan. mereka sejalan

aku hanya penyair yang mencintai keduanya
aku hanya bisa bersajak untuk keduanya
aku tak memerlukan jaket ketika sang kelabu merajalela
aku tak membutuhkan payung untuk pengaman dikala hujan menggebu-gebu
aku hanya penyair yang membutuhkan keduanya
berjalan bersama hujan dan menikmatinya bersama kelabu
itu cukup bagi penyair sepertiku


write by @itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...