Langsung ke konten utama

Ritual Rumah Atap #1


"siapa sangka, kau adalah motivasi terbesar dalam hidupku"

                “bangun Ra.. ini udah jam berapa. Nanti kebablasan lo ..” suara lembut mama membangunkan Kinara dari mimpi indahnya.  Di liriknya arloji yang ada di meja lampunya. Dengan tersenyum ia bangkit mematikan lampu tidur itu, lalu menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan merapikan semuanya dengan baik. Masih ada 30 menit lagi untuk memulai ritual yang selalu ia jalankan setiap tahunnya. Kinara kembali dengan keadaan rapi, menuju lemari khusus yang di persiapkan untuk menyimpan segala benda-benda berharga miliknya. Kinara mengambil kotak yang terbungkus dengan rapi berwarna hijau tua, membukanya perlahan dan mengambil buku unik yang begitu tebal dengan lembaran-lembaran yang sudah hampir setengah penuh. Buku itu bersampul abu-abu dan jingga. Sungguh cantik. Kinara lalu tersenyum dan membawa kotak beserta buku itu ke tempat ritualnya. Sebelumnya Kinara, mengambil tulip berwarna kuning yang telah ia beli sore tadi. Dengan wajah sambil tersenyum Kinara berjalan ke lantai dua rumahnya. Menyusuri kamar dari adiknya lalu di ujung menemukan tali yang tergantung. Perlahan Kinara menariknya hingga tangga dari balik tali yang tergantung itu muncul. Kinara menaiki tangga itu dan menghabiskan sepanjang malam di atas sana. Ritual rumah atap.
***
                Masa kecil memang masa yang paling indah. Semua terasa begitu mudah, tak ada hal-hal yang membuat kepala menjadi pusing. Tak mengenal rumus-rumus fisika yang setiap saat bersarang di pembuluh otak. Masa kecil hanya mengenal bermain, tertawa, bermain dan tertawa kembali. Begitulah kira-kira Kinara dan Syifa. Mulai dari zaman mama dan papa mereka masih SMA ke akraban sudah terjalin. Hingga mereka berdua dilahirkan pun, masa kecil mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Baik luar maupun dalam. Mereka selalu menjadi duo yang tak terpisahkan. Begitulah julukan yang orang-orang beri pada Kinara dan Syifa. Seperti kembar tapi beda. Kinara dengan senyumnya yang menawan, di hiasi dagu yang terbelah hingga memperlihatkan keindahan wajahnya, dan di karuniai dengan kulit putih dan bersih. Tidak jauh beda dengan Syifa, yang memiliki lesung pipit serta gigi ginsul di bagian atas hingga menambahkan kesan lucu kepadanya, dagu yang runcing, alis mata yang melentik, mata yang berwarna coklat terang dan bulat menambah kesan feminim pada dirinya. Dan di tambah lagi dengan kulitnya yang berwarna sawo matang tambah memperlihatkan wajah Indonesia asli.
                Sekolah hingga rumah berdekatan. Tak bisa di pisahkan. Menjalani aktivitas bersama olah raga bersama, les music bersama, bahkan les dalam pelajaran pun sama. Membuat satu sama lain saling mengingatkan.
                “Nara, ayo bagun cepetan ini udah mau berangkat sekolah… kebo banget sih” teriakan yang keluar dari mulut kecil Syifa mulai mengeras. Mencoba membangunkan sahabatnya yang teramat sulit untuk beranjak dari kasurnya.
                “emang jam berapa sekarang?”
                “jam 7..!”
                “ha?? Kenapa nggak bangunin dari tadi?!!” teriak Kinara kaget setengah mati.
                Buru-buru ia mandi lalu berpakaian. Secepat kilat hingga suara air mengalir tak terdengar sama sekali. Kinara memang sulit bangun tidur, tapi dia paling malas jika sudah terlambat. Kinara paling kesal kalau terlambat selalu saja di setrap di depan tiang bendera. Ketakutan anak SD seperti ini wajar terjadi begitulah pemikiran orang-orang dewasa pada umumnya. Apalagi di tambah dengan kenakalan yang di perbuat Kinara setiap harinya membuat dia harus sebisa mungkin tidak terlambat kesekolah. Kirana bosan jika sudah terlambat, guru-guru pasti akan selalu mengomeli kenakalan yang dulu-dulu, 'walaupun sekarang masih' ia perbuat.
                “kamu mandi apa nggak sih?”
                “mandi dong. Ini udah wangi”
                “kenapa kok gak ke dengeran bunyi air? Kayak gak mandi aja.” Ledek Syifa
                “ngapain mandi lama-lama. Nanti telat. Ayo berangkat” ajak Kinara was-was
                “kamu nggak sarapan dulu ra?” tahan Syifa sesaat
                “nggak sempet. Ayolaah….” Sambil menarik tangan Syifa
                Mereka hanya berjalan kaki ke sekolah. Jarak yang lumayan dekat tak perlu melintasi jalan raya, hanya melewati beberapa blok di Komplek Perumahan Griya Asri itu, berbelok ke kiri melewati jembatan kecil lalu melewati gang samping sekolah. Mereka berdua lari sekencang-kencangnya. Ketika sedang berlari mereka mendengar bunyi bel dari sekolah, mereka semakin mempercepat kecepatan. Setibanya di sekolah pintu gerbang sudah di tutup. Dan tumben, hari ini hanya mereka berdua yang terlambat. Wajah kesal sudah menghampiri Kinara. Sedangkan Syifa seperti biasa tenang. Melihat Pak Rudi sudah mulai mendekat raut wajah Kinara semakin kesal. Pak Rudi adalah guru Bahasa Inggris yang paling suka menjewer telinganya Kinara. Hanya Kinara. Karena Kinara adalah satu—satunya murid perempuan paling nakal di SD Pelita Harapan itu.
                “Kinara.. sudah 3 kali terlambat ya?” Tanya Pak Rudi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
                “hehe iya paak..” jawab Kinara sambil tertawa merasa tak bersalah
                “sudah tau hukumannya kan?”
                “iya pak siap, Nara harus hormat tiang bendera selama 1 jam kan?”
               “oh pinter sekali murid bapak ini, dan tunggu, kamu juga membawa Syifa?” sambil menjewer telinga Kinara karena geram sekali melihat kelakuan anak ini dan kembali bersuara
                “kamu ini, sahabat sendiri di jadikan korban terlambat. Kamu ini masih kelas 4 SD Nara, bandel kamu ini kebangetan sekali”
                “yah pak, sakit … Syifa kan gak salah pak. Nara yang susah bangun. Nara aja deh yang di hukum ga usah Syifa” sambil meringis kesakitan
                “ah Ra, kamu ini gimana sih. Kita telat berdua ya di hukum berdua dong. Gak asik banget sih” sambil mencubit tangan Kinara
                “lah.. nanti kamu capek. 1 jam lama lo. Di depan tiang bendera lagi. Kamu kan belum terbiasa Syifa”
                “gak papa, kapan lagi coba. Inget perjanjian kita waktu TK dulu?”
                “iya, sahabat itu harus sama-sama berbagi…”
                “nah gitu dong kan pinter..” jawab Syifa sambil tertawa
               “oh iya pak, Syifa sama Nara ke depan tiang bendera ya pak.. permisi pak” sambil menarik tangan Kinara lalu menuju tiang bendera.
                Terik matahari hari itu, memang sudah mulai terasa. Hawa panas yang di limpahkan sang sumber energi itu, membuat badan Kinara dan Syifa mulai basah. Berkeringat. Waktu memang sangat berjalan dengan sangat lambat apabila mereka sudah terkena hukuman. Bahkan seakan berhenti. Satu jam saja terasa seperti lima jam. Bayangkan saja di tengah lapangan, berdiri duo sejoli ini layaknya menantang matahari.
                Dan akhirnya, waktu untuk mereka berjemur sudah selesai. Mereka buru-buru ke meja piket. Mengambil ransel yang sudah sedari tadi menganggur disana. Jam istirahat tinggal 25 menit lagi. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di kantin hingga jam istirahat usai. Setelah mendapatkan ceramah dan mengisi buku kasus mereka berdua lalu berhamburan menuju kantin, duduk dan membeli beberapa roti untuk mengisi perut yang kosong karena tidak sempat untuk sarapan. Hingga percakapan dari anak bocah seperti mereka di mulai
                “maaf ya Fa, aku tadi jadi bikin kamu telat. Untuk yang pertama kalinya..” seru Kinara dengan tampang lesunya
                “ah biasa aja kali ra. Kamu kayak baru kenal aku aja. Buat apa minta maaf segala”
                “iya tapi kan kamu jadi capek gini Fa..”
                “aku nggak papa kok. Asal itu sama kamu aku seneng. Kamu tau gimana aku sayang sekali sama kamu. Sahabat mana yang nggak seneng kalo tiap hari bisa bareng sama sahabatnya sendiri?” Syifa mulai mengeluarkan kedewasaan yang jarang di miliki anak-anak yang baru berusia 9 tahun. Dia memang cerdas.
                “aku seneng deh Fa, punya sahabat kayak kamu. Ngelakuin hal-hal bodoh tiap hari. Kamu itu unik, jarang banget aku bisa nemuin manusia unik kayak kamu. Udah unik, cerdas lagi. Pokoknya top cer deh hahaha” sambil mengunyah Kinara mengatakan apa yang ia rasakan
                “aku juga seneng punya sahabat kayak kamu, ngajarin aku berbuat hal-hal yang belum pernah aku tau. Janji kita waktu TK dulu inget nggak? Yang waktu main putri-putrian?”
                “iya inget. Kamu kan suka banget jadi Snow White kan? Hahaha janji kalau kita bersahabat itu, harus saling melindungi. Harus terus sama-sama. Harus senyum banyak-banyak. Harus membantu orang-orang. Dan gak boleh bohong. Iya kan?” ujar Kinara sambil mencubit pipi Syifa
                “iya, kamu paling suka sama Putri Aurora..” ledeknya sambil melanjutkan “tapi satu lagi kurang, Ritual rumah atap yang harus kita jalani setiap tanggal 6…”
                “oh iya aku hampir aja lupa. Tapi kita belum punya rumah atap Fa. Papa belum sempat buatin untuk kita. Papa sibuk. Padahal aku pengen deh kita punya satu” sahut Kinara mulai lemas
                “tenang aja, sebelum ada rumah atap. Kan bisa pake kamar aku dulu kayak biasa. Ritual kita tetap jalan kok neng, yang kurang cuma rumah atap doang” ucap Syifa menyejukkan.
                Dan tak terasa percakapan mereka terhenti karena bunyi bel istirahat sudah selesai. Mereka berdua bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
***


To Be Continued

wirte by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...