"siapa sangka, kau adalah motivasi terbesar dalam hidupku"
“bangun
Ra.. ini udah jam berapa. Nanti kebablasan lo ..” suara lembut mama
membangunkan Kinara dari mimpi indahnya.
Di liriknya arloji yang ada di meja lampunya. Dengan tersenyum ia
bangkit mematikan lampu tidur itu, lalu menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan merapikan semuanya
dengan baik. Masih ada 30 menit lagi untuk memulai ritual yang selalu ia
jalankan setiap tahunnya. Kinara kembali dengan keadaan rapi, menuju lemari
khusus yang di persiapkan untuk menyimpan segala benda-benda berharga miliknya.
Kinara mengambil kotak yang terbungkus dengan rapi berwarna hijau tua,
membukanya perlahan dan mengambil buku unik yang begitu tebal dengan
lembaran-lembaran yang sudah hampir setengah penuh. Buku itu bersampul abu-abu
dan jingga. Sungguh cantik. Kinara lalu tersenyum dan membawa kotak beserta
buku itu ke tempat ritualnya. Sebelumnya Kinara, mengambil tulip berwarna
kuning yang telah ia beli sore tadi. Dengan wajah sambil tersenyum Kinara
berjalan ke lantai dua rumahnya. Menyusuri kamar dari adiknya lalu di ujung
menemukan tali yang tergantung. Perlahan Kinara menariknya hingga tangga dari
balik tali yang tergantung itu muncul. Kinara menaiki tangga itu dan
menghabiskan sepanjang malam di atas sana. Ritual rumah atap.
***
Masa
kecil memang masa yang paling indah. Semua terasa begitu mudah, tak ada hal-hal
yang membuat kepala menjadi pusing. Tak mengenal rumus-rumus fisika yang setiap
saat bersarang di pembuluh otak. Masa kecil hanya mengenal bermain, tertawa,
bermain dan tertawa kembali. Begitulah kira-kira Kinara dan Syifa. Mulai dari
zaman mama dan papa mereka masih SMA ke akraban sudah terjalin. Hingga mereka
berdua dilahirkan pun, masa kecil mereka sudah saling mengenal satu sama lain. Baik luar maupun dalam. Mereka selalu
menjadi duo yang tak terpisahkan. Begitulah julukan yang orang-orang beri pada
Kinara dan Syifa. Seperti kembar tapi beda. Kinara dengan senyumnya yang
menawan, di hiasi dagu yang terbelah hingga memperlihatkan keindahan wajahnya, dan
di karuniai dengan kulit putih dan bersih. Tidak jauh beda dengan Syifa, yang
memiliki lesung pipit serta gigi ginsul di bagian atas hingga menambahkan kesan
lucu kepadanya, dagu yang runcing, alis mata yang melentik, mata yang berwarna
coklat terang dan bulat menambah kesan feminim pada dirinya. Dan di tambah
lagi dengan kulitnya yang berwarna sawo matang tambah memperlihatkan wajah
Indonesia asli.
Sekolah
hingga rumah berdekatan. Tak bisa di pisahkan. Menjalani aktivitas bersama olah
raga bersama, les music bersama, bahkan les dalam pelajaran pun sama. Membuat satu
sama lain saling mengingatkan.
“Nara,
ayo bagun cepetan ini udah mau berangkat sekolah… kebo banget sih” teriakan yang
keluar dari mulut kecil Syifa mulai mengeras. Mencoba membangunkan sahabatnya
yang teramat sulit untuk beranjak dari kasurnya.
“emang
jam berapa sekarang?”
“jam
7..!”
“ha??
Kenapa nggak bangunin dari tadi?!!” teriak Kinara kaget setengah mati.
Buru-buru
ia mandi lalu berpakaian. Secepat kilat hingga suara air mengalir tak terdengar
sama sekali. Kinara memang sulit bangun tidur, tapi dia paling malas jika sudah
terlambat. Kinara paling kesal kalau terlambat selalu saja di setrap di depan
tiang bendera. Ketakutan anak SD seperti ini wajar terjadi begitulah pemikiran
orang-orang dewasa pada umumnya. Apalagi di tambah dengan kenakalan yang di perbuat Kinara setiap harinya membuat dia harus sebisa mungkin tidak terlambat kesekolah. Kirana bosan jika sudah terlambat, guru-guru pasti akan selalu mengomeli kenakalan yang dulu-dulu, 'walaupun sekarang masih' ia perbuat.
“kamu
mandi apa nggak sih?”
“mandi
dong. Ini udah wangi”
“kenapa
kok gak ke dengeran bunyi air? Kayak gak mandi aja.” Ledek Syifa
“ngapain
mandi lama-lama. Nanti telat. Ayo berangkat” ajak Kinara was-was
“kamu
nggak sarapan dulu ra?” tahan Syifa sesaat
“nggak
sempet. Ayolaah….” Sambil menarik tangan Syifa
Mereka
hanya berjalan kaki ke sekolah. Jarak yang lumayan dekat tak perlu melintasi
jalan raya, hanya melewati beberapa blok di Komplek Perumahan Griya Asri itu, berbelok ke kiri melewati jembatan kecil lalu melewati gang samping sekolah. Mereka berdua lari
sekencang-kencangnya. Ketika sedang berlari mereka mendengar bunyi bel dari
sekolah, mereka semakin mempercepat kecepatan. Setibanya di sekolah pintu
gerbang sudah di tutup. Dan tumben, hari ini hanya mereka berdua yang
terlambat. Wajah kesal sudah menghampiri Kinara. Sedangkan Syifa seperti biasa
tenang. Melihat Pak Rudi sudah mulai mendekat raut wajah Kinara semakin kesal. Pak
Rudi adalah guru Bahasa Inggris yang paling suka menjewer telinganya Kinara.
Hanya Kinara. Karena Kinara adalah satu—satunya murid perempuan paling nakal di
SD Pelita Harapan itu.
“Kinara..
sudah 3 kali terlambat ya?” Tanya Pak Rudi sambil menggeleng-gelengkan
kepalanya.
“hehe
iya paak..” jawab Kinara sambil tertawa merasa tak bersalah
“sudah
tau hukumannya kan?”
“iya
pak siap, Nara harus hormat tiang bendera selama 1 jam kan?”
“oh
pinter sekali murid bapak ini, dan tunggu, kamu juga membawa Syifa?” sambil
menjewer telinga Kinara karena geram sekali melihat kelakuan anak ini dan
kembali bersuara
“kamu
ini, sahabat sendiri di jadikan korban terlambat. Kamu ini masih kelas 4 SD
Nara, bandel kamu ini kebangetan sekali”
“yah
pak, sakit … Syifa kan gak salah pak. Nara yang susah bangun. Nara aja deh yang
di hukum ga usah Syifa” sambil meringis kesakitan
“ah
Ra, kamu ini gimana sih. Kita telat berdua ya di hukum berdua dong. Gak asik
banget sih” sambil mencubit tangan Kinara
“lah..
nanti kamu capek. 1 jam lama lo. Di depan tiang bendera lagi. Kamu kan belum
terbiasa Syifa”
“gak
papa, kapan lagi coba. Inget perjanjian kita waktu TK dulu?”
“iya,
sahabat itu harus sama-sama berbagi…”
“nah
gitu dong kan pinter..” jawab Syifa sambil tertawa
“oh
iya pak, Syifa sama Nara ke depan tiang bendera ya pak.. permisi pak” sambil
menarik tangan Kinara lalu menuju tiang bendera.
Terik
matahari hari itu, memang sudah mulai terasa. Hawa panas yang di limpahkan sang
sumber energi itu, membuat badan Kinara dan Syifa mulai basah. Berkeringat. Waktu
memang sangat berjalan dengan sangat lambat apabila mereka sudah terkena
hukuman. Bahkan seakan berhenti. Satu jam saja terasa seperti lima jam. Bayangkan
saja di tengah lapangan, berdiri duo sejoli ini layaknya menantang matahari.
Dan
akhirnya, waktu untuk mereka berjemur sudah selesai. Mereka buru-buru ke meja
piket. Mengambil ransel yang sudah sedari tadi menganggur disana. Jam istirahat
tinggal 25 menit lagi. Mereka berdua memutuskan untuk duduk di kantin hingga
jam istirahat usai. Setelah mendapatkan ceramah dan mengisi buku kasus mereka
berdua lalu berhamburan menuju kantin, duduk dan membeli beberapa roti untuk
mengisi perut yang kosong karena tidak sempat untuk sarapan. Hingga percakapan
dari anak bocah seperti mereka di mulai
“maaf
ya Fa, aku tadi jadi bikin kamu telat. Untuk yang pertama kalinya..” seru
Kinara dengan tampang lesunya
“ah
biasa aja kali ra. Kamu kayak baru kenal aku aja. Buat apa minta maaf segala”
“iya
tapi kan kamu jadi capek gini Fa..”
“aku
nggak papa kok. Asal itu sama kamu aku seneng. Kamu tau gimana aku sayang
sekali sama kamu. Sahabat mana yang nggak seneng kalo tiap hari bisa bareng
sama sahabatnya sendiri?” Syifa mulai mengeluarkan kedewasaan yang jarang di
miliki anak-anak yang baru berusia 9 tahun. Dia memang cerdas.
“aku
seneng deh Fa, punya sahabat kayak kamu. Ngelakuin hal-hal bodoh tiap hari. Kamu
itu unik, jarang banget aku bisa nemuin manusia unik kayak kamu. Udah unik,
cerdas lagi. Pokoknya top cer deh hahaha” sambil mengunyah Kinara mengatakan
apa yang ia rasakan
“aku
juga seneng punya sahabat kayak kamu, ngajarin aku berbuat hal-hal yang belum
pernah aku tau. Janji kita waktu TK dulu inget nggak? Yang waktu main
putri-putrian?”
“iya
inget. Kamu kan suka banget jadi Snow White kan? Hahaha janji kalau kita
bersahabat itu, harus saling melindungi. Harus terus sama-sama. Harus senyum
banyak-banyak. Harus membantu orang-orang. Dan gak boleh bohong. Iya kan?” ujar
Kinara sambil mencubit pipi Syifa
“iya,
kamu paling suka sama Putri Aurora..” ledeknya sambil melanjutkan “tapi satu
lagi kurang, Ritual rumah atap yang harus kita jalani setiap tanggal 6…”
“oh
iya aku hampir aja lupa. Tapi kita belum punya rumah atap Fa. Papa belum sempat
buatin untuk kita. Papa sibuk. Padahal aku pengen deh kita punya satu” sahut
Kinara mulai lemas
“tenang
aja, sebelum ada rumah atap. Kan bisa pake kamar aku dulu kayak biasa. Ritual kita
tetap jalan kok neng, yang kurang cuma rumah atap doang” ucap Syifa
menyejukkan.
Dan
tak terasa percakapan mereka terhenti karena bunyi bel istirahat sudah selesai.
Mereka berdua bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengikuti pelajaran
selanjutnya.
***
To Be Continued
wirte by @istiqasuwondo
Komentar