aku meragui. entah kenapa aku meragui ucapanmu. bukan aku tidak percaya, bukankah kau mengatakan tak menyimpan rasa apapun terhadapku? hingga kini aku bertanya-tanya. sebenarnya ingin bertanya langsung, tapi lagi-lagi ragu mendahului opiniku. aku benar-benar ingin rasional dengan keadaan ini. menjadi positif mungkin lebih baik bukan? tapi, aku belum bisa bermain dengan kenyataan. kau tau, aku menyimpan rasa, tak besar memang. tak juga berharap. hanya sekedar cambukan untuk emosi hatiku, tak mengapa. tapi haruskah di akhir kita seperti ini? bahkan memulaipun belum. tak mengucapkan sepatah kata apapun?
aku memikirkan. apakah ini benar seperti ucapanmu? kau terlihat sangat berani saat di dunia maya, tapi dengan nyata kau? sama sekali tak terlihat. bukan. bukan maksudku mengucilkanmu. akupun begitu, tapi setidaknya kau mengerti dengan konsekuensi yang kau ucapkan beberapa waktu dulu, tapi katamu kita teman kan? berteman tidak lebih. tidak ada yang salah? lalu sekarang ada apa? kau lupa?
aku tak mengharapkan sesuatu hal yang lebih dari penyampaianmu. tidak sama sekali. benar katamu, kita hanya teman. tak lebih. aku juga tak mempermasalahkan itu bukan? yang ku permasalahkan kini hanya sikapmu, kau berkata kita ini adalah seorang teman, tapi faktamu membuat seolah kita tak saling mengenal, atau musuh mungkin? aku tidak mengerti. aku hanya menyimpan tanya. hanya tanda tanya. tapi katamu kita TEMAN?
seperti purnama di jendela malam, aku kerap sekali memandanginya, mencoba menyentuh. dan iya, aku sadar, terlalu jauh. lalu aku mengurungkan niat dan kembali memandangi. kau mengerti, ibaratkan kau purnama aku hanya memandangi. aku tak bergeming kokoh pada perasaan semu lalu, aku bisa pudar dengan lambat. aku tidak menyayangkan perasaan yang tak berbalas, aku hanya menyayangkan sikapmu yang terus menghindar. setidaknya kita bisa berteman lagi, apa salah? jika iya, beri aku satu alasan!
kau malu dengan ledekan mereka-mereka? bukan kah kau tidak menaruh hati? jadi apa yang salah?
kau bosan dengan tawa mereka mengenaimu yang menyangkut namaku? abaikan saja mereka, jadi kenapa kau malah ikut serta mengabaikanku?
kita masih terlalu muda. kau dan aku.
mungkin jika berfikiran tentang masa depan, dengan mudah kita menepikan rasa. juga tak ingin terlalu cepat bertindak. langkahmu mungkin benar, tapi apakah dengan cara seperti ini?
terkadang, aku aneh melihatmu, kau dengan sahabat baikku atau teman-temanku yang lain dengan mudah dan enteng berbicara ringan, bersikappun demikian. tapi, ada yang salah dengan sikapku? kenapa perubahanmu semakin lama semakin aneh? tapi katamu kita TEMAN?
tidak lebih yang kuminta. apalagi hati. tidak dan tidak.aku hanya meminta, tapi katamu kita TEMAN? buktikanlah itu :)
tadinya kita mengenal
tadinya kita bertegur sapa
hanya karena sesuatu hal yang tak terjamah logika
kita pudar, seperti itukah seorang TEMAN katamu?
recommended story by LM
write by @istiqasuwondo
Komentar
namun aku berada pada posisi tidak sepertimu, tapi aku lah orang yg berkata tapi kita teman itu ...