Langsung ke konten utama

untuk anak IPS



IPS = IKATAN PELAJAR SUKSES


Begitulah kira-kira mereka berargument. Sudah banyak yang menjadikan simbol itu sebagai motivasi. Saya pun demikian. Saya salah satu dari mereka. Menjadi bagian dimana logika menjadi modal utama. Saya bangga berpijak pada poros ini. Entah kenapa saya tak peduli dengan gonjang-ganjing yang kerap kali menikam kami.

Sosial,
Begitulah adanya semboyan mereka. Pelajar lain pun mungkin tahu, manusia adalah makhluk sosial. Meskipun yang terjadi kenyataannya, mereka adalah salah satu pelajar yang memiliki jiwa keras untuk bebas. Karena mereka memang seperti itu. Mereka bukannya tak ingin sukses ataupun membuat yang lain bangga. Hanya cara mereka berbeda dari kebanyakan. Jika di katakan seorang pemimpi. Memang mereka adalah pemimpi yang sangat handal. Apalagi yang menyangkut imajinasi, tanyakan saja mereka rajanya. Memang hidup tidak hanya indah dengan mimpi dan imajinasi belaka. Namun, saya pernah mendengar salah satu teman saya berkata “tak semua kami tidak memiliki masa depan” benar-benar opini yang indah. Mendengar itu saya jadi semakin terus bernalar. Saya sering kali mengamati teman-teman saya yang berpengang kokoh pada ikatan ini. Mereka benar-benar keras kepala. Kebanyakan dari mereka ingin bebas. Mereka tak hanya belajar dengan buku-buku tebal yang berisi teori-teori yang mutlak. Tapi, mereka belajar dengan pengalaman dan lingkungan masing-masing. Itu membanggakan. Disaat yang lain sibuk dengan mencari jawaban pasti, mereka hanya bernalar dengan logika.

Kebanyakan mereka memang tidak istimewa. Tapi, mereka juga memiliki masa depan. Walau hujatan tentang buruknya keadaan mereka, saya yakin itu hanya untuk  membangun mereka dengan kritikan. Seperti halnya para pengajar yang sangat hobi berceloteh tentang kegagalan yang akan mereka temui jika masih terus bersikap tak acuh pada pembelajan. Mereka menghargai itu, dan berterima kasih untuk itu. Saya rasa, anak sosial ini sudah menata masa depannya dengan matang. mau jadi apa, mau kerja apa. “Luar tidak menjamin ke aslian pribadinya” terilihat buruk bukan berarti dari dalam juga buruk. mereka hanya pelajar yang sangat menyukai kebebasan. Pengalaman mereka di masa ini, adalah modal mereka untuk maju. Bukan karena mereka hobi tak masuk saat pelajaran atau bahkan tak suka mengerjakan tugas. Hanya saja mereka tak bisa di paksa. Mereka punya jalan masing-masing. Mereka punya mimpi masing-masing. Mungkin hari ini mustahil bagi yang mengamati mereka bahwa mereka bermimpi untuk sukses, tapi dua buah kata “suatu hari” akan bisa di buktikan. Saya pun demi kian. Saya berjuang, mereka berjuang. Saya sukses, mereka sukses, dan kami sukses! 

Jika, hari ini mereka pelajar yang bersikap tak acuh, kritik saja mereka terus. Mereka membutuhkan itu. Mereka juga butuh untuk di beri nasehat-nasehat tidak hanya hujatan. Mereka bisa menelaah setiap frasa yang akan keluar dari bibir kalian. Mereka seperti intan yang tertutup pasir hitam. Jangan terus menghujat keburukan mereka, mereka berhak untuk di dengar, kelak mereka akan menjadi berlian nan indah yang akan berlenggang di masa depan. Percaya saja, mereka pelajar sosial yang tidak hanya bermodal kenakalan, mereka pelajar sosial yang sedang menata mesa depan dengan mengamati lingkungan sekitar. 

ini tertulis untuk mereka yang sependapat dengan opini saya.
ini tertuju untuk mereka yangg berpijak sama seperti saya.
ini memang untuk anak sosial
UNTUK ANAK IPS
kita yang mengatur kendali. mereka akan melihatnya nanti.

"be heard be strong be proud"

write by @itijonas

Komentar

Unknown mengatakan…
like bgt kak :-)
itijonas mengatakan…
makasih ya dek :)

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...