Langsung ke konten utama

sedikit tentang putih abu-abu


Pertama dengan putih dan abu-abu Menyatu dengan paduan serba baru Melangkah dimusim orientasi minggu Menanar lucu berdiri memaku. Musim sekolah yang membosankan Pelajaran yang mudah memuakkan Terfikir hanya satu, permainan! Di balik tabir biru, putih abu-abu menyenangkan! Sejuk angin menerpa dedauan Terik matahari menahan langkah senyuman Berlari-lari di kala waktu senggang Memutar buku jikalau bosan Mencari kantin ketika lapar

Mereka sebutkan, badung! Melanggar semua tata dan tertib. Mengeluarkan baju, tidak memakai ikat pinggang, bersepatu belang, cabut saat pelajaran, absen setiap saat. Itu, ketika sudah menghitung jari berada di lingkungan putih abu-abu. Saya sebagai salah satu siswi SMA sudah mulai merasakan kejenuhan dalam belajar, jangankan belajar, membuka buku saja sudah muak. Apalagi mendengar tahun sekarang, kelulusan dipersulit dengan berbagai macam jenis soal. Untuk belajar saja, tinggat kejenuhan sudah mencapai oktaf melebihi kapasitas, bukan karena rasa malas yang memaksa, tapi karena sudah jengah.

Itu bukan salah siswa, bukan juga guru. Tapi tuntutan yang sudah melewati batas itu yang membuatnya menjadi rancu. Kesadaran sendiri? Memang. Itu tergantung mereka berfikir bagaimana. Tapi jika di survei kebanyakan lelah dibanding usahanya. Bukan ingin terus menyalahkan, tapi fakta berbicara. Jika membandingkan dengan negara-negara lain yang sudah mencetus sebagai negara maju saja tidak seperti ini sulitnya, banyaknya pelajaran tidak semuanya juga dikuasai dengan beruntun. Kapasitas otak manusia berbeda-beda. Yang kapasitasanya lebih sih emang gampang dan setuju-setuju aja tapi buat yang biasa-biasa aja, pasti berat banget dong?


Kalau bercerita mengenai kebosanan memang tak akan ada habisnya. Tapi, dibandingkan dengan suka cita bahkan duka cita pun akan mengalahkan kebosanan yang telah menjadi top ten sementara. 'Kebersamaan' seperti itulah kira-kira. Tiga tahun, mengenakan seragam bersama, putih abu-abu, bangun pagi menuju tujuan utama 'sekolah' berlari jika terlambat, jadi kuli jika sudah di tahan di gerbang, banyak sekali yang harus di tuliskan. Tapi intinya 'saya akan merindukan ini'.  Kenangan di putih abu-abu layaknya sejarah yang takkan bisa terulang. Ribuan memori yang terukir takkan pernah bisa terlupakan. Ini waktunya untuk mengucapkan 


“selamat tinggal dan sampai bertemu kembali di masa depan”



bercerita mengenai sejarah, aku jatuh cinta pada setiap halamannya

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...