Langsung ke konten utama

maaf, aku belum sempat membalasnya #1

langit mendung mengawali pagi ini, sudah pukul enam tapi aku tetap saja belum ingin mempercepat gerakan. hari ini, hari pertama dimana aku menginjak kelas 9. betapa tidak aku malas melangkah, kelas yang notabene di dominasi oleh kaum adam telah sejak lama terbayang di kepalaku. sudah terbesit di benak bahwa hari ini pasti akan sangat membosankan. Aku mengawali pagi ini dengan muka malas dan setengah hati untuk melangkah keluar, sama halnya dengan langit yang kian memendung namun tak kunjung turun hujan.
"Avi.. buruan nanti kita telat" teriakan mama mempercepat langkahku
"iya ma tunggu bentar lagi minum" jawabku setengah berlari kecil
"kamu ini, niat sekolah atau tidak sih nanti telat, mama lagi yang susah"
"iya deh maaf"
***
pukul 7.15 sangat bertepatan dengan bunyi lonceng ketika aku baru saja turun dari mobil. dengan malas  aku melangkah masuk kedalam pekarangan sekolah yang selama ini, sama sekali tak pernah aku pedulikan. hanya saja di pikiranku, ingin segera tamat dan melanjutkan ke sekolah yang aku idam-idamkan. 
papan pengumuman sudah mulai lengang, Aku berjalan dengan malas melihat dimana lokasi kelas ku saat ini dan setelah melihat papan tersebut membuat semua semangat ku hilang. kelas yang akan ku masuki berada tepat di depan ruang guru. aku rasa, ini sama sekali tidak akan menyenangkan! 
"vi, kelas 9.1 dimana ya?" seorang perempuan bertubuh kurus ini membuyarkan kekesalanku
"itu didepan ruangan guru ge. kamu kelas 9.1 juga?" 
"wah masak di sana sih. gimana mau ribut kalau gitu. iyaa kita duduk barengan yuk, aku ga kenal nih sama anak-anak kelas ini"
"loh bedanya sama aku apa? ini udah kesel tau dapet kelas ini"
sambil berjalan bergandeng, aku dan gea menuju kelas tersebut. melihat beberapa bangku bagian belakang sudah terisi oleh kaum-kaum adam yang mendominasi disana. bagian tengah pun sudah diisi oleh gadis-gadis yang kurasa baru sekali ini kutemui. aku serasa menjadi anak baru, tak kenal siapa pun di kelas ini kecuali gea yang akan menjadi teman sebangku ku dan 2 orang lagi dari teman-teman ku di kelas 7 dulu. 
aku melihat tempat duduk di depan paling pojok tepat di depan meja guru, aku menarik tangan gea untuk duduk disana. disana mungkin aman jauh dari jangkauan kaum-kaum adam yang sama sekali aku tidak tertarik untuk mengenal mereka. mungkin di sudut lebih baik.

"selamat pagi anak-anak. perkenalkan nama ibu, Elvira ibu akan menjadi wali kelas kalian selama setahun ini. ibu mengajar di bidang bahasa Inggris. untuk sekarang ibu ingin kalian semua memperkenalkan diri satu per satu kedepan supaya ibu bisa mengingat kalian. di mulai dari kamu yang duduk di ujung yang pakai kaca mata" ibu Elvira langsung menunjuk kearah ku. 
satu hal yang aku lupakan ketika perkenalan pasti akan di ambil dari sudut kiri. dengan ragu aku melangkah kedepan berdiri di depan orang-orang asing ini dan memperkenalkan diri. hanya singkat. begitulah aku tidak ingin terlalu lama. setelah semuanya memperkenalkan diri, dan walaupun aku sama sekali tidak mengingat nama mereka satu per satu yang jelas yang ingin aku lakukan adalah keluar secepatnya. aku sudah mulai bosan dengan hari ini.
"baiklah, sekarang saatnya ibu meminta kalian memilih beberapa kandidat untuk di jadikan perangkat kelas" lagi-lagi hal ini yang terlupa oleh ku, setiap memasuki kelas baru pasti akan ada pemilihan perangkat kelas, ketika yang lain sibuk memilih aku hanya mencoba tertidur sampai ada seseorang laki-laki menyebutkan namaku. aku tersentak mendengar dia menyebutkan namaku, aku ingin mengetahui siapa yang menyebutkan namaku tadi, alhasil aku tidak bisa mengenali suara mereka. dan pada saat itu sudah di tetapkan aku menjadi seorang bendahara di kelas ini. dan ini untuk yang ke empat kalinya aku menjadi seorang bendahara. ingin sekali menolaknya tapi, melihat ibu Elvira memintaku dengan sangat lembut aku sama sekali tidak bisa menolak. ini memang sangat menyebalkan.

***

ini sudah seminggu aku berada di kelas ini. hanya beberapa saja yang masih ku ingat nama-nama mereka. walau di dalam buku kas ku terdapat lengkap nama panjang mereka, aku sama sekali sulit mengingat wajahnya. sampai-sampai terkadang aku keseringan salah panggil. 
dan hari ini, malam minggu. yang biasa aku lakukan adalah membuka jejaring sosial untuk menghilangkan bosan dirumah yang sudah mulai senyap ini. 
"hei gadis berkaca mata" ada seseorang laki-laki kurus memanggilku dari pesan facebook. aku tak mengenalnya. maksudku aku lupa siapa namanya. dan jujur demi apapun, aku baru tau kalau lelaki ini satu kelas dengan ku.
"iya maaf, ada apa ya?" jawabku sesopan mungkin
"kamu sombong banget sih"
"loh kenapa gitu?"
"di kelas gak mau akrab sama kita-kita"
"emang kamu sekelas sama aku?"
"tuh kan, sama teman sekelas aja ga tau. gimana sih ibu bendahara ini" #jleb aku langsung kaget mendengar ucapannya. aku bahkan tak tau, siapa lelaki ini, dengan enaknya dia memberiku nama panggilan yang aneh.
"maaf ya bukannya aku sombong cuma aku belum terbiasa saja. tapi, kamu ini beneran teman sekelas ku? duduk dimana? namamu siapa?"
"cari tau sendiri dong. namaku seperti yang tertera di sini"
"Kinan?"
"iyap. eh sudah malam tidur lagi, anak perempuan gak boleh begadang. goodnight gadis berkaca mata" dia menutup percakapan begitu saja. aku heran, kenapa ada yang bisa aku lupakan. jujur aku tidak mengenal sama sekali laki-laki yang bernama kinan itu. demi menghilangkan rasa penasaranku, aku melihat daftar nama-nama teman sekelasku yang terdapat di buku kas itu. dan memang ternyata benar ada yang bernama "Kinandra Anugrah" dan aku semakin penasaran bagaimana outlook lelaki ini.

***
"vi, pinjem catatan dong" suara Rafqi teman yang baru aku kenal wajahnya ini mengalihkan perhatianku
"catatan apa?"
"catatan sejarah, aku lupa bawa buku jadi aku nggak nyatet hari ini"
"kenapa harus pinjem sama aku?"
"aku ngeliat tugas kamu udah di tanda tangan barusan"
"balikin besok ya"
"tenang aja"
dan saatnya pergantian jam pelajaran, wali kelas masuk dan akan mengatur tempat duduk yang sudah ada ini. akan mengacaukan segalanya
"sekarang kita ganti tempat duduk ya. setiap baris itu selang-seling. sebaris laki-laki, sebaris lagi perempuan, begitu seterusnya sampai ujung. jadi sederet ini hanya ada laki-laki dan sederet sana hanya ada perempuan"
begitulah ibu Elvira mengatur tempat duduk itu. aku jadi dipindahkan ketengah dan duduk di bangku nomer dua dari depan. sebenarnya ini baik mengingat kondisi mataku yang rabun. tapi tetap saja di sebelahku ini deretan kaum adam. tapi untung saja yang berada disampingku ini Rafqi jadi aku tidak perlu terlalu canggung.
***

"vi, ini ada kertas disuruh kasih ke kamu" suara agum mengagetkan suapan pertama ku
"dari siapa gum?"
"ga boleh di kasih tau, aku aja belum baca. yang jelas baca aja deh"
"makasih ya"
"yoi bro"
aneh. kertas putih ini mulai menjadi tanda tanya. ku buka perlahan dan ku baca dengan seksama. hanya sebuah note yang tertulis disana 'selamat siang, makan yang banyak ya' #kinan. dan lagi-lagi lelaki ini muncul. tapi aku sama sekali tidak mengenali dia, wajahnya pun aku lupa. walaupun rata-rata aku sudah mulai mengenal dan akrab dengan teman-teman sekelas ini, tapi lelaki yang bernama kinan ini aku sama sekali tak mengingatnya. apa yang salah dengan dia. atau aku yang terlalu tidak peduli? yang aku tidak mengerti kenapa dia begitu mendominasi pemikiranku? aku sama sekali tak mengenalnya, apalagi melihat wajahnya. jadi aku seharusnya bagaimana?
***


to be continued


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...