Langsung ke konten utama

maaf aku belum sempat membalasnya #2

ini sudah dua hari sejak kejadian kiriman note itu. aku masih belum berani bertanya kepada teman-teman ku. aku berusaha hanya menyimpan dan takkan ingin mencari tau lagi, tapi mustahil aku semakin penasaran akan sosok itu, kembali kudapati secarik kertas kini kertas itu berwarna merah terselip di buku catatan matematika ku disana ditulis kembali 'ayo semangat PR matematika banyak. kerjain yang rapi ya' # kinan dan lagi ini maksudnya apa? sepertinya lama kelamaan aku akan seperti kolektor yang menyimpan kertas-kertas ini. baiklah aku akan memutuskan untuk benar-benar mencari tahu siapa lelaki ini. sudah cukuplah permainan anak-anak ini. aku sama sekali tidak tertarik lagi bermain teka-teki seperti ini sudah saat nya aku selesaikan. mungkin gea akan bisa membantu
***

"pagi vi, tumben datengnya pagi banget?"
"pagi juga. iya nih aku pengen nanya sesuatu sama kamu ge. mau minta tolong."
"tolong apa?"
"kamu kenal nggak sama kinan? katanya dia sekelas sama kita. ia sih di buku absen nama dia ada tapi aku sama sekali belum tau orang nya kayak gimana"
"yaampun vi, si badung kinan? masak nggak kenal? satu sekolah juga tau kali. dia yang duduk di deretan nomer empat sebelah kanan kamu. emang ada masalah apa sih kamu sama dia?"
"ah gak ada masalah apa-apa kok. badung gimana ceritanya?"
"iya maklumlah, ketua genk kali ya. nakal banget tu anak, kamu sih yang terlalu cuek sama kelas. kasus dia itu banyak. masih untung banget dia masih bisa naik. ini pun udah naik masih juga suka cabut. padahal ini kan yang bakal nentuin kita ke SMA nanti"
"jarang masuk? pantesan aku ga ternah ngeliat."
"kamu sih, kalau udah fokus, liatnya kedepan aja. nanti deh kalau dia lewat aku kasih tau kamu yang mana orangnya. untung-untung dia masuk ya hari ini"
"siip. makasih ya ge"
"welcome"
sedikit lega. tapi aku semakin heran, badung tapi kenapa masih sempat nulis catatan kecil buat aku? tapi kualitas tulisannya bisa di bilang bagus banget. kalah sama tulisan aku. jarang ada anak laki-laki yang tulisannya serapi itu, apalagi anak nakal seperti itu. sejurus dengan aku mimikirkan tanda tanya yang masih besar ini, gea menarik tanganku, memaksaku untuk melihat ke arah matanya memandang, dengan bahasa isyarat gea mengatakan bahwa yang sedang aku lihat itu adalah kinan. ia kinandra anughrah, laki-laki yang selama ini muncul secara semu dalam hidupku. aku miliriknya sampai ia duduk di kursinya. dan ternyata kursinya memang berada di belekarang sana. aku masih menatapnya tanpa berkedip, ia sama sekali tak mengacuhkan ku. ia duduk dan langsung terbenam dalam tas kosongnya lalu tertidur. terbesit ide di kepala ku untuk membalas secarik kertas yang ia berikan padaku beberapa hari yang lalu. disana ku tuliskan dengan jelas 'tulisanmu bagus. kamu mungkin salah satu dari laki-laki spesial' #avi akan ku taruh di dalam tasnya nanti ketika jam istirahat, dan ku harap ia membacanya.
***

ini sudah 3 bulan sejak aku memberinya secarik kertas itu. aku tidak tau dia telah membaca atau belum yang jelas selama 3 bulan penuh ini aku tidak lagi mendapatkan kertas dari dia, ataupun sapaannya di dunia maya. dia bagaikan hilang. sebenarnya sih tidak terlalu berpengaruh di hidupku dia datang atau kluar dari hidupku. aku hanya mengenal namanya. aku tak pernah berbicara panjang lebar dengannya. apa yang perlu aku pusingkan. hidupku berjalan seperti semestinya. dan memang begitu adanya. hingga di hari sabtu aku di kagetkan dengan kemunculannya di pagi hari dan tengah duduk di bangku ku, ingin sekali aku mengacuhkannya tapi ia duduk di kursi ku bagaimana aku tak berbicara dengannya.
"kenapa duduk di kursi ku ya kinan?"
"udah tau sama aku ya?"
"iya sudah. aku tau dari gea"
"oh begitu"
"aku mau duduk, kenapa kamu masih duduk disini?"
"aku mau ngomong sama kamu vi"
"ngomong apa? kita kan nggak pernah ngomong"
"sekarang aku serius mau ngomong. kamu duduk dulu deh" sambil mempersilahkan aku duduk, dia berpindah kesebelahku.
"ngomong apa?"
"aku suka sama kamu vi"
"ha? kok bisa"
"sejak pertama kali kamu masuk ke kelas, waktu kamu kebingungan nyari kursi kosong. tampang kamu kayak orang bego, tapi lucu"
"......."
"itu kenapa aku menyebutin nama kamu buat jadi bendahara. itu kenapa aku nyapa kamu di facebook. dan itu kenapa aku ngasih kamu catatan kecil itu" "aku ngerasa ada yang lain dan semakin hari semakin berbeda sejak kamu kasih aku kertas kecil itu. kamu satu-satunya perempuan yang mengakatan kalau aku ini adalah laki-laki spesial"
"aku ngomong gitu karna, kan jarang ada anak nakal yang tulisannya luar biasa rapi kayak gitu. nggak bermaksud apa-apa kok"
"iya karena itu, kamu bisa ngeliat kelebihan seseorang di saat orang lain hanya bisa menghujat kelemahan orang lain. aku suka sama kamu avilia anindira"
aku benar-benar kaget setengah mati tak terbayang kalau akhirnya akan seperti ini. belum pernah ada laki-laki yang menyatakan perasaannya seperti ini langsung di depanku. aku heran, aku sama sekali tidak tau maksudnya. aku masih terlalu muna untuk ini. aku tidak bisa. iya, aku tidak bisa.
"maaf ya kinan, tapi aku tidak bisa"
"apa yang tidak bisa?"
"membalas perasaan kamu"
"emang aku minta kamu ngebalas perasaan aku? aku kan cuma mengungkap kan isi hati aku. ya emang kayak gitu. aku tau, aku memang bukan lelaki yang kamu cari. aku hanya anak nakal yang hidup tanpa prestasi"
"jangan ngomong seperti itu. setiap manusia itu di lahirkan untuk jadi seseorang yang berguna. aku yakin kamu bisa. kalau kamu ingin aku membalas perasaan kamu, tolong buat aku kagum, tunjukkan padaku, apa yang menjadi sisi terangmu yang kamu redupkan selama ini. apa kamu sanggup?"
"aku tidak pintar"
"semua manusia pintar, hanya saja kebanyakan malasnya. buktikan, biar aku bisa menjawab"
"baiklah"
begitulah pembicaraan panjang kami yang ternyata anak-anak dikelas sudah dari tadi melihat adegan yang barusan terjadi. muka ku memerah saat mereka melototi ku dengan wajah heran. aku berusaha tak memperdulikannya. begitulah yang aku lakukan
***
"aku kerumah ya nanti jam 7"
"ngapain?"
"minta kejelasan cerita tadi pagi, kayaknya kamu nutup-nutupi sesuatu deh vi"
"bukan mau nutup-nutupi. hanya saja aku malas membahasnya"
"yasudah nanti kamu ceritakan semua ya" dan telfonpun ditutup. gea memang seperti itu. ingin tau semuanya. tapi tak apalah dia yang menjadi teman terdekat ku selama dua tahun, dan dia juga yang membantu aku mengenal seorang kinan itu. tiba-tiba dari arah pintu rumah sudah berdering bel yang membisingkan. aku yakin itu pasti gea. dan ternyata benar. sesampainya gea kami langsung menuju kamarku. aku menceritakan semuanya yang terjadi pagi tadi yang membuat gea tidak berhenti berkata "WHAT?!" 
"seorang kinan berubah? kamu mau jungkir balik pun gak bakalan deh vi"
"kenapa sih nggak percayaan gitu? siapa tau mamang benar dia pintar bagaimana?"
"pintar dari mananya? aku tau kasus-kasus dia itu, mulai dari malakin adik kelas, merokok, cabut, tauran apa sih yang nggak pernah dia lakuin mana mungkin bisa berubah, pintar lagi. catatan aja nggak pernah ngumpul, bikin pr nggak pernah, dikelas kerjaannya cuma tidur. ilmu apa yang mau dia dapat?"
"iya siapa tau dia bisa berubah dengan tantangan aku itu?"
"mustahil"
"jangan ngomong gitu. nggak selamanya hitam itu terlihat hitam. sama seperti mutiara, walaupun dia berada di tempat yang berlumpur dia tetap saja akan terlihat paling menawan diantara sekitarnya. hanya saja kita harus lebih jeli melihat keberadaannya"
"perumpamaan kamu terlalu berlebihan. jangan-jangan kamu memang ada rasa sama dia? tapi kamu gengsi karena kamu gak mau punya pacar anak berandalan?"
"bukan gitu, selagi rasa suka seseorang itu bisa merubahnya kearah yang lebih baik kenapa tidak?"
"iya deh yang penting kita liat saja buktinya"
***


to be continued


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...