Langsung ke konten utama

bersama ayah, aku hidup #1


“Langsa, 26 Agustus 1997..”

Pagi yang begitu dingin. Tak seperti biasanya, mungkin di luar akan turun hujan. ah tapi kan masih pagi, terdengar langkah kaki, sepertinya itu bukan nenek, tapi siapa lagi? Itu seperti langkah seorang laki-laki. Pintu pun di buka perlahan seingatku, ternyata benar dugaanku, seorang laki-laki bertubuh kurus itu masuk dan membawa kantong besar di tangannya. Menarik tanganku sambil menggendongku “selamat ulang tahun pikacu kecil ayah…” ucapnya sambil mencium pipiku. Dan aku pun mulai kegirangan, sambil menyalami tangannya “terima kasih ayah”
***
“mau dibawa sekarang? Besok saja hari ini biarkan dia merayakan ulang tahunnya disini” ucap nenek kepada ayah.
“tapi bu, saya takut tidak mendapatkan tiket pesawat untuk besok”
“besok kan hari rabu, mana mungkin tidak dapat. Jangan terburu-buru nang, nanti dia terkejut. Ibunya pun belum juga pulang kan?”
“baiklah bu, hari ini kita rayakan saja ulang tahunnya. Ini pertama kalinya dia merayakannya, saya tidak ingin mengecewakannya, pinjami saya motor bu, saya mau ke pasar dulu..”
“baiklah nang..” Dengan langkah cepat, ayah berlalu
***
“Tika.. ayo mandi, pakai baju cantik, kita mau kedatangan banyak tamu” suara lembut nenek mengajakku turun dari ranjang yang nyaman itu, tanpa membantah aku mengikuti jalannya yang bersemangat itu.
“nek, Tika gak mau pakai ini..” sambil menunjuk kearah rok pink yang di pegang nenek
“loh kenapa? Ini bagus nak..” sambil menggeleng nenek melihat kebiasaan ku yang tak pernah ingin menyentuh rok itu, sambil berjalan dengan terbata-bata aku mengambil salah satu celana jeans yang di beli Ibu sewaktu ulang tahunku yang pertama. Aku menyukainya.

“Tika, anak perempuan suka sekali pakai celana, masih kecil aja udah milih-milih” sambil tertawa nenek mengenakannya ke kaki ku. Aku pun tertawa tanpa berbicara sedikitpun, mungkin karena pagi, belum seutuhnya nyawaku berkumpul. Setelah mengenakan baju dengan rapi, nenek menyisiri rambut lebat yang baru seminggu lalu di potong, menyulang ku dengan bubur dan segelas kecil susu putih, memang kebiasaan yang di terapkan nenek kepada semua cucunya. 
Jam sudah menunjukkan pukul 11:20, semua bibi dan paman ku sibuk mendekor rumah nenek yang luas itu dengan berbagai jenis hiasan ulang tahun yang di beli ayah tadi pagi. Mereka semua mendekor rumah itu menjadi lebih berwarna. Semuanya sibuk, aku yang berulang tahun, dan waktu itu masih kecil hanya bisa bermain-main dengan boneka pikacu kedua yang di belikan ayah. Dan sampai semuanya selesai. Acara dimulai pukul 2 siang, para tetangga banyak yang datang, semua teman-teman dari kampung sebelah pun ikut berdatangan. Aku heran, mungkin karena pertama kalinya merayakan ulang tahun, di meja coklat bulat itu terletak kue ulang tahun berwarna coklat keemasan membentuk gambar pikacu dan di atasnya terpampang angka 2 yang menyatakan bahwa kala itu aku berumur 2 tahun.
Seusai acara perayaan itu, aku mendapatkan banyak sekali bingkisan-bingkisan, karena waktu itu aku masih terlalu kecil, dengan rewel membuka semuanya. Dan yang ku dapat pun bermacam-macam, tapi memang karena mereka sudah tau kesukaanku jadi, rata-rata banyak yang memberiku mainan atau boneka pikacu, dan sehari itu aku mendapat 10 boneka pikacu dalam berbagai macam ukuran, sampai aku tertidur karena kelelahan bermain dengan banyak boneka itu.
***
“ayo nak, kita pulang lagi..” suara lembut ayah membuatku mengarah kepadanya, dari kelihatannya dia sudah mengepak semua barang-barang. Pantas saja hari ini aku merasa ada yang berbeda, pagi-pagi begini sudah memakai pakaian rapi.
“pulang kemana ayah? Ini kan rumah kita” tanyaku sambil berdiri memegang tangan ayah
“pulang kerumah Tika di Padang nak, ini rumah nenek” jawab ayah sambil menggendongku, dan membawaku menemui nenek yang duduk di teras depan.
“bu, aku pamit pulang ya, jaga diri baik-baik, lebaran mungkin aku nggak bisa pulang, aku jemput Murni di Sukabumi, Tika aku bawa ya bu” sambil menyalami tangan nenek “Tika salam nenek nak” aku duduk di pangkuan nenek sebentar, aku menyalami tangan nenek dan nenek mencium pipiku
“hati-hati ya nak, Tika jangan nakal lagi ya, kalau tinggal sama ayah jangan jajan banyak-banyak lagi nanti uang ayah habis” sambil berbicara nenek aku menjawab dengan sesukaku “uang ayah kan banyak nek” dan nenek tertawa, mencium ku sekali lagi. Dan kami berpamitan kepada semua saudara di sekitaran rumah nenek. Mereka mengantarkan kami sampai di taksi yang sudah menunggu sedari tadi. Perjalanan dari Langsa ke Medan membuatku tertidur sepanjang perjalanan. Dan akhirnya sampai di bandara polonia, ayah menggendongku sambil mendorong koper yang besar itu.
“ayah , naik pesawat lagi?” sambil tersenyum aku bertanya
“iya nak.. Tika senang kan?” sambil mencium pipiku
“senang sekali yaah. Tapi Padang itu dimana?”
“nak, kamu ini keturunan ayah sekali, ada saja yang mau di tanyakan. Lihat saja nanti ya nak kalau kita sudah sampai” sambil tertawa ayah terus berjalan. Kami menunggu di ruang tunggu, aku masih saja makan coklat yang kami beli tadi di mini market ujung. Sampai akhirnya pesawatpun tinggal landas.

***
“aiiih.. ini si Tika udah besar saja, terakhir kakak liat masih kecil sekali” ucap kak Soni sambil menggendongku. Kak soni adalah keponakan papa dari Siantar, yang di minta papa untuk menjaga ku ketika papa kerja. Dia tinggal bersama kami disini, di Padang.
“kapan kamu sampai disini? Kok bisa buka rumah? Tanya papa sambil menyeruput teh hangatnya.
“tadi pagi, aku minta sama tetangga sebelah. Om kan bilang minta sama tetangga kalau aku yang datang duluan”
“oh iyo seng lali aku ndok”
“Tika, main sama kak Soni ya, ayah nanti malam mau kerja pulangnya lama”
“kenapa ayah pulang malam?”
“ayah kerja nak, cari uang buat beli mainan untuk Tika”
“iya ayah, cari uang yang banyak ya yah biar kita bisa beli mainan lagi”
“iya sayang” dan ayah pun berlalu mempersiapkan diri untuk pergi ke kantor. Waktu itu ayah memang dapat jatah kerja malam. Ayah seorang mekanik mesin, jadi kebanyakan dia memperbaiki alat-alat besar itu di malam hari.
“Son, nanti jangan lupa kasih makan Tika ya, kalau malam kamu rasa dingin pakaikan dia baju tidur lengan panjang, yang penting tertutup. Kalau tidak alerginya bisa kumat. Dan sebelum tidur, jangan lupa susu hangat ya, nanti dia tidak bisa tidur. Ojo lali yo, tak lungo sek”
“nje om” dan ayah berlalu.
Ayah memang seperti itu. Dia memang sibuk, tapi masih menyempatkan diri untuk memperhatikan aku. Mungkin karena waktu itu aku anak satu-satunya dan perempuan juga yang di tinggal ibunya dinas di luar Sumatra mungkin. Tapi itulah ayahku.
***

Ayah sudah seminggu pulangnya pagi terus. Aku jadinya tidur bersama kak Soni. Sampai waktu itu ayah bisa pulang lebih awal, dan meluangkan waktu bersamaku. Sewaktu ayah dirumah, ada saja yang kami lakukan, bermain puzzle, nonton smack down yang tayang di atas jam 12. Sebenarnya tidak wajar, anak seumuran aku menonton jam segitu, tapi ayah yang mengidap insomnia, jadi aku pun ikut-ikutan menemani ayah malam-malam begitu. Walaupun malam, ayah tetap saja tidak memarahiku. Waktu itu ayah memasakkan ku mi rebus, dan pertama kalinya aku melihat ayah memegang kompor. Dan seperti wajarnya seorang ayah, ketika aku ingin tidur, dia tidak lupa menceritakanku sebuah dongeng yang ia karang sendiri. Setiap punya waktu bisa bersama ayah, ayah selalu menceritakan dongeng kancil dengan berbagai versinya. Ayah ku memang hebat.
***



to be continued

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...