Langsung ke konten utama

bersama ayah, aku hidup #2


***
“bul, kapan kesini? Aku sudah bisa pindah ke Padang. Anakku mana?” terdengar suara Ibu dari balik telfon.
“rencana hari sabtu bun, naik kapal. Mas prapto udah ngasih tiketnya. Ini dia sudah besar sekali” jawab ayah lagi
“aku rindu sekali dengan dia, sudah setahun aku tidak menjaganya. Kira-kira dia masih ingat wajah ku tidak ya bul?
“ah pastilah ingat, kamu berlebihan sekali. Namanya anakmu, lahir dari perutmu, mana mungkin lupa”
“oh iya ya. Aku tunggu hari minggu ya bul! Kabari aku kalau sudah sampai Sukabumi”
“baik bun” sambil menutup telfon
Ayah menghampiri ku yang sedang bermain bersama anak tetangga di depan teras,
“Tikaaa, sini dulu nak” sahutnya. Dan aku berlari mendengar panggilan itu
“apa yah?”
“Sabtu kita jemput Ibu ya? Kita naik kapal, Tika belum pernah naik kapal kan?”
“kapal? Iya Tika maau yah”
***
Sukabumi, 9 Mei 1998
“assalamu’alaikum bun, aku sudah di depan rumahmu yang mana?”
“tunggu bul, aku keluar”
Dan muncul dari dalam sesosok wanita berparas batak keluar dari salah satu rumah dinas sederhana itu, berlari kecil menghampiri kami, dan menyalami ayah kemudian menggendongku sambil menciumi pipiku berkali-kali
“ibu rindu sekali sama kamu nak, sudah besar saja” sambil membantu ayah membawakan koper kecilnya, kami memasuki rumah dinas ibu yang sederhana itu. Suasanya beda, atmosfer yang asing buat ku. Hari itu juga ibu langsung mengepakkan barang-barangnya. Ibu adalah seorang Polwan yang dulunya bertugas di Sukabumi, tapi karena alasan anak, ibu meminta pindah ke Padang. Setelah 2 jam beristirahat kami bertiga langsung menuju Jakarta, menginap sehari dirumah Abangnya ayah, di Tanjung Priok karena kami juga akan pulang dengan kapal. Beruntung karena Ayah bekerja di Teluk Bayur dan Uwo ku bekerja di Tanjung Priok, untuk mendapatkan tiket kapal tidaklah sulit.
Diperjalanan pulang, aku tidur di pangkuan ibu, ibu tak melepaskan ku sedetikpun, mungkin karena ia terlalu merindukan anaknya ini. Dan sampailah kami kembali ke Padang, dirumah dinas itu.
Hari ini, keluargaku lengkap. Mereka dirumah semua. Dan aku bersama mereka sepanjang waktu. Hingga malam, kami bertiga menerawang. Ayah berdongeng kembali, aku tertidur sambil memegangi sebelah daun telinga ayah dan ibu. Begitulah hal yang biasa aku lakukan sebelum aku tinggal bersama nenek.
***
26 Agustus 1998
Ini ulang tahunku yang ke tiga. Dan untuk yang kedua kalinya di rayakan. Mengundang teman-teman seluruh komplek. Pagi ini, kado sudah terletak di sebelah ku. Dari ayah dan ibu, ayah memberiku miniatur pikacu satu set dengan para pemainnya. Dan ibu, memberiku jaket pikacu yang lucu. Aku bahagia mereka mengingat hari kelahiranku sebelum aku mengingatnya terlebih dahulu. Dan pagi ini, ayah berbicara padaku dengan bahasa yang mudah aku pahami kala itu. “Tika sekarang sudah tiga tahun, tika kan anak perempuan, tapi jangan jadi perempuan cengeng” . aku mengerti, ayah memang tidak terlalu menyukai jika aku terlalu terlihat seperti seorang perempuan. Aku pun mengerti ayah, tidak ingin aku menjadi anak yang lemah. Karena mungkin menurut ayah, sisi feminim itu melambangkan kelemahan.
***
Ayah, tak pernah bosan mengatakan padaku, kalau jadi perempuan itu harus bisa terlihat seperti laki-laki juga. Dan aku pun tumbuh menjadi perempuan yang menyukai hal-hal yang di sukai laki-laki. Ayah tak pernah memberiku rok, selalu celana. Ayah tak pernah memberiku sepatu seperti perempuan, selalu sepatu santai seperti laki-laki. Ayah mungkin ingin aku tumbuh, menjadi gadis yang kuat. 9 tahun, menjadi anak satu-satunya, hingga akhirnya aku memiliki seoarang adik. Namanya Yuqi.
Hebatnya ayah, walaupun aku sudah memiliki seorang adik, dia tak pernah lupa untuk memperhatikan pertumbuhanku. Bagaimana aku bersikap, setiap hari, tata bicaraku di atur ulang kembali oleh ayah. Dan waktu itu sempat aku bertanya “ayah, kenapa Tika kidal yah? Teman-teman sekolah Tika semua kanan”
“Tika, Kanan kiri itu tidak masalah, yang jelas kamu bisa menulis ya silahkan saja nak”
Ayah memang suka sekali memberiku semangat. Tidak salah, jika aku lebih suka berada di dekat ayah. Karena dia tidak pernah lupa memperhatikanku. Dan ayahpun pindah jabatan sehingga  pada akhirnya kami pindah rumah, lebih jauh dari sebelumnya.
***
26 Agustus 2011
“ayaaaah, ini gitar punya siapa?” melihat gitar yang terletak rapi di dalam kamar ku membuat mataku terbelalak kaget. Senang heran dan entah apa semuanya bercampur.
“selamat ulang tahun pikacu ayah yang sudah besar” berhambur aku memeluk ayah dan mengucapkan ribuan terima kasih. Itu gitar klasik keluaran Yamaha, yang sempat pernah aku minta kepada ayah 3 bulan yang lalu.
“tapi yah, Tika kan belum bisa main gitar.. Tika cuma tau kunci G”
“nanti ayah ajarin, kamu kan pernah bilang kalau kamu dari dulu pengen sekali bisa bermain gitar bukan? Kamu juga sempat meminta ini sama ayah 3 bulan yang lalu bukan? Ini sekarang untuk kamu, belajarlah dengan giat, ini sekalian ada buku panduannya. Belajarlah dulu, nanti kalau sulit ayah bantu” sambil mencium keningku, ia berlalu ke halaman depan.
Ayah, memang seperti itu, penuh kejutan. Memang sejak kami pindah kerumah ini, dan sejak ayah sudah pindah jabatan kami jarang bertemu, di tambah jadwal sekolah ku kala itu padat sekali. Aku mungkin sudah 16 tahun, tapi ayah masih memperlakukan aku seperti gadis kecilnya yang berumur 2 tahun. Ayah, memang sering sekali memarahi ku sejak umurku 11 tahun. Suka sekali membuat ku menangis, tapi ayah selalu saja kembali seperti semula, meminta maaf. Ayah, memang seorang yang temperamental, seorang yang keras, itu sebabnya ia mendidikku tidak harus seperti perempuan yang seharusnya. Itu sebabnya ayah jatuh cinta pada Ibu yang seorang Polwan, yang menurutnya perempuan seperti itu mandiri dan berani.
Ayah juga sering mengatakan padaku kalau sudah besar nanti jadi manusia yang menguntungkan buat orang tua, jangan bergantung pada orang lain, dan jangan pernah termakan gossip. Ayah juga sering mengingatkanku untuk tidak perlu terlalu mengurusi hidup orang lain yang memang tidak memiliki arti penting di hidupku. Sebagai contoh jika aku bertengkar dengan seorang teman dan teman itu berbicara buruk tentang ku, ayah selalu mengingatkan jangan pernah meniru seperti itu. Aku sudah tumbuh menjadi apa yang ayah minta.
“yah, aku sudah bisa memindahkan kunci gitar ini. Tapi aku cuma bisa G,C,Em,A dan D yah”
“bagus dong, ayah ada lagu ini, judulnya ‘mother how are you today’ tau kan? Itu kuncinya cuma G dan C. sini ayah praktekkan” pelan-pelan ayah mengajariku lagu itu sampai akhirnya aku mahir melakukannya.
***


to be continued


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...