sudah dua minggu sejak kejadian kinan menyatakan perasaannya padaku. aku memang tidak melihat perubahannya secara drastis hanya saja, aku sudah mulai melihat dia mulai rajin pada pembelajaran yang ada. dia mulai mengerjakan catatan, PR dan latihan. itu sebuah kemajuan. dia memang benar-benar ingin menunjukkannya. dan hari ini di awali dengan pelajaran bahasa indonesia yang di ajar oleh guru paling galak di sekolah ini, namanya bu Dewi. aku tau, bu Dewi paling tidak suka jika ada muridnya yang tidak memperhatikan pelajaran yang ia berikan. hukuman yang akan diterima murid yang melanggar akan sangat mengangetkan pastinya, kecuali untuk murid yang bisa menjawab pertanyaannya.
"Kinan! saya sedang menerangnkan, kenapa anda bisa-bisanya tidur saat pelajaran saya" teriak bu Dewi dengan tegas
"saya tidak tidur bu. saya hanya menundukkan kepala"
"bagaimana bisa kamu bilang kamu tidak tidur, mata kamu saja merah"
"saya hanya ngantuk bu"
"kamu ini memang anak nakal. kalau betul kamu tidak tidur tolong kedepan dan jelaskan kembali apa yang saya jelaskan barusan"
"baik"
dengan langkahnya yang tenang, kinan jalan menuju depan kelas menyebutkan satu per satu apa yang di jelaskan bu Dewi barusan, bahkan melewati apa yang di ajarkan bu Dewi, bu Dewi hanya menjelaskan 3 jenis majas beserta contoh tapi kinan bisa menjelaskan lebih dari 5 macam majas beserta contoh tanpa ada kalimat terbata-bata dari mulutnya. semua orang berdecak kagum dibuatnya. tidak percaya bahwa sang raja cabut ini bisa juga menjelaskan dengan detail apa yang belum di terangkan oleh bu Dewi. tanpa di duga bu Dewi tersenyum berdiri dan memukul kecil pundak kinan sambil mengatakan hal yang sukar di percayai anak-anak di kelas "kinan, kamu ini sebenarnya pintar dan berbakat, kenapa baru sekarang kamu perlihatkan kepada kami" dia hanya tersenyum kecil dan kembali ke tempat duduknya. kembali menundukkan kepala sepertinya ia memang ingin tertidur lagi, kali ini di izinkan oleh bu Dewi. dan untuk kedua kalinya, aku mengagumi lelaki ini. siapa dia sebenarnya?
***
ujian semester 1 pun sudah berlangsung seminggu yang lalu. saatnya penerimaan hasil belajar. aku merasa sudah belajar dengan baik. tapi yang menjadi bulan-bulanan pikiranku tetap pada laki-laki yang sama, apakah dia akan meraih peringkat pertama? ku rasa tidak. dan 3 besar juga mungkin tidak. aku dan kinan mungkin hanya seperti orang yang tak saling mengenal, kami hanya bicara sesekali. itupun pembicaraan langsung hanya terjadi sekali, saat pernyataan perasaan itu, setelahnya dia sama sekali tak berbicara sepatah ataupun dua patah kata padaku. apa mungkin dia tersinggung? aku tidak tau.
dan hari ini penerimaan rapor pun datang, aku terkaget-kaget mendengar apa yang di ucapkan wali kelas itu. Kinan? peringkat 2??! semua orang memang tidak percaya. aku hanya mendapat peringkat 4. bagaimana mungkin, dalam jangaka waktu 4 bulan saja dia bisa meraihnya. sudah ku duga sejak awal dia memang spesial.
hingga malam ini aku tak bisa berhenti memikirkan bagaimana ia dapat meraihnya. antara percaya dan tidak. lalu ponsel ku berdering, ku buka dari nomer yang sama sekali tidak kukenal.
"gimana?"
"gimana apanya? siapa ya?"
"lupa langsung deh. ini aku, kinan"
aku kaget. bangkit dari tidurku, melihat pesan singkatnya muncul di ponselku. darimana dia tau? kenapa baru hari ini.
"oh kenapa kinan?"
"tanya kenapa lagi. aku udah dapet juara tuh masak kamu kalah sama anak badung"
"ye mentang-mentang juara deh sombong. tapi selamat ya :)"
"makasih bukben, karena kamu, aku bisa berubah"
"jangan karena aku, karena kamu itu sebenarnya punya potensi,hanya saja kamu terlalu malas"
"hahah tau aja. dua minggu nih gak bakal ketemu sama bukben"
"lebaaaaay.."
dan begitulaah selama dua minggu penuh aku dan kinan terjebak dalam cerita-cerita remaja. hingga liburan usai, ia tak pernah berhenti berkomunikasi denganku. aku senang bisa mengenalnya. aku sudah tau beberapa hal tentangnya, dia menceritakan kehidupannya sesekali jika ia menelfon ku, kami berbicara banyak hal. kambali kesekolah lagi, akankah kami bisa seakrab selama ini? aku tidak tau pasti.
***
jam istirahat sudah 5 menit berlalu, namun tak satu pun guru datang hari ini, entah kenapa mungkin karena awal sekolah, masih banyak guru yang pergi liburan. aku juga tidak melihat kinan hari ini. kelas ramai, aku heran mereka tampaknya sangat bersemangat hari ini. tiba-tiba suasana mendadak hening, aku bangkit dari tidurku, aku terbangun mendengar alunan musik lembut yang entah siapa yang memainkannya, aku memasang kacamata ku kembali dan terkaget-kaget melihat kinanlah yang sedang memainkan alat musik gitar itu, iya bernyanyi tanpa aku sadari, semua teman-temanku sudah memberi kami ruang. dia menyanyikan alunan musik dengan suara beratnya
' i will fly into your arms and be with you 'till the end of time. why are you so far away you know it's very hard for me to get myself close to you'
itu alunan lembut, aku terkesan, sekali lagi lelaki ini memang benar-benar spesial. satu per satu menunjukkan bahwa dia memiliki segudang kelebihan. aku benar-benar tersipu malu kali ini di buatnya. muka ku memerah ketika setangkai mawar merah ia berikan padaku. aku terdiam. aku hilang akal. aku lumpuh seketika.
"terima kasih untukmu, avilia sudah meyakinkan aku bahwa aku adalah manusia yang memiliki arti. sudah membuka mataku untuk bekerja keras dan membuat aku berani belajar hal-hal sebelumnya tak pernah aku tahu. mungkin benar kata orang, seseorang yang spesial ada karena mereka ada di antara orang spesial. untuk aku kamu memang spesial"
".................." keheningan hebat benar-benar terjadi disini. aku seperti berhenti bernafas di buatnya. aku berasa tak memijaki tanah mendengar ucapannya barusan.
"kali ini aku sudah menepati janji, jadi bagaimana jawabanmu untukku?"
jawaban? aku sama sekali tak tau apa yang ingin aku katakan. aku bukannya tak menginginkan dia, tapi ada hal yang mengganjal untukku menjawab ini semua. aku masih bimbang. god bless me!
"hmm kinan, bukannya aku tidak ingin menjawab, tapi tidak bisakah kita hanya berteman saja dulu?"
"kenapa? kamu takut?"
"bukan, hanya saja aku belum siap menjalin suatu hubungan serius bersama seseorang"
"apa kamu malu karena aku adalah laki-laki badung?"
"bukan itu! sudah ku katakan dari awal bukan karena itu. nanti kamu juga bakal tau kenapa. aku minta maaf kinan"
dengan muka memerah aku berlari keluar menuju kamar mandi. aku heran, kenapa aku masih saja tidak berani berkata ia, didepannya. apa aku terlalu pengecut untuk mengatakan bahwa aku juga menyukainya? tidakkah ada jalan yang lebih baik untuk aku dan dia selain ini?
hingga sampai kelulusan tiba pun, aku dan kinan tak lagi saling sapa. tak lagi saling memandang. dia mengacuhkanku. apakah hanya segitu saja perasaannya untukku? dia tak lagi mendominasi pesan singkat di ponselku, tak lagi ada panggilan masuk tiap malam itu, dia berubah. melayu seperti mawar merah yang masih ku simpan saat ini. hari perpisahan sudah di depan mata. dia sama sekali tak menjabat tanganku untuk terakhir kalinya. dia hanya berlalu tanpa memperdulikan uluran tanganku. dia marah. dan terlalu dingin.
***
to be continued
write by @istiqasuwondo
Komentar