Langsung ke konten utama

Dan saat itu aku sadar...."


Langit takkan pernah bisa menjawab isi hati seseorang, baik kau maupun aku. Langit hanya bisa melihat dan memperhatikan. Cinta, tak ada yang bisa mengerti selain diri sendiri dan sejatinya hati itu sendiri.
Mengerti atau tidak, ketika jatuh cinta semua terasa bahagia, segalanya bisa berubah dalam seketika. Keakuan alam mutlak yang membuatnya terlihat seperti itu.


Aku jatuh cinta.

Tak mengerti bagaimana alurnya, yang jelas aku mencintaimu. Aku di butakan oleh hal-hal tentangmu. Kesabaran yang tak biasa ku miliki mendadak muncul melebihi oktaf biasanya. Nalarku tak pernah bergeming rancu. Yang jelas yang kurasa; rindu.

Aku tak pernah menyesali telah mencintaimu, sebagaimana perlakuanmu, aku jelas jatuh dan cinta padamu. Kau sebutkan, kau mencintaiku dengan seluruh hatimu, dan aku sadar, itu hanyalah kenanganmu yang mencintaiku; bukan hatimu. Aku tak perlu rasa iba agar kau membalas hatiku, tak masalah bagiku, bersama atau tanpamu aku masih bisa berdiri, berjalan dan bahagia. Aku sudah pernah katakan sebelumnya; kau yang memiliki hatiku, dan kau memiliki kuasa untuk mematahkannya. Itu hak mu. Hanya saja, tak pernahkah kau mengetahui apa itu defenisi dari kata ‘sayang?’ ku rasa kau belum menemukan jawabannya.
Aku bisa mengerti, aku bisa bertahan. Walaupun terlihat egois, aku katakan aku masih bisa tersenyum, aku lebih menikmati kejujuran yang pahit dari pada kebahagiaan yang berselimut dusta. Cinta akan tetap bernama cinta. Rasa akan terus menjadi rasa. Tapi hanya satu yang bisa merubahnya; Waktu.




Dan saat itu aku sadar, cinta membutakan segalanya …”


tanpa bintang, mereka hujan ~


write by @istiqasuwondo



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...