***
26 Agustus 2012
Bangun pagi, semua
sibuk memberes-bereskan barang-barang. Maklumi saja, kami baru saja pulang dari
kampung. Ibu terlihat sibuk memasak di dapur, ayah terlihat sibuk dengan
baju-bajunya yang berantakan. Hari ini aku merasa ada sesuatu yang kurang,
mereka tidak ingat ini hari ulang tahunku. Mereka sibuk masing-masing. Aku pun
tak berniat untuk mengingatkannya. Sampai aku mendapatkan kejutan dari
teman-teman ku, mereka datang membawakan kue ulang tahun yang kelihatannya
sangat menggiurkan. Ayah dan ibu tak menghiraukannya. Mereka meminta izin untuk
pergi, aku di tinggal dirumah sendirian. Mereka mengatakan akan pulang malam
hari. Bagaimana tidak, ini hari ulang tahunku, mereka pergi dan sama sekali
tidak mengingatnya, padahal tahun kemarin semuanya masih saja indah. Dan lebih
tepatnya ini ulang tahun ku yang ke 17.
Setelah teman-temanku
pulang, aku merapikan rumah membersihkannya. Menghidupkan lilin dan
menghembusnya begitu berulang-ulang. Ayah, ibu dan adikku juga belum pulang padahal ini sudah pukul 8. Sempat aku menangis karena hal ini, tapi sudahlah ayah
selalu mengatakan padaku, perempuan hebat itu tidak menangis.
“assalamua’laikum”
terdengar suara ibu memanggil. Cepat-cepat ku buka kan pintu dan mengisikan
secangkir air untuk mereka berdua. Tak ada tanda-tanda mereka ingat akan ulang
tahun ku. Dan ketika aku sudah mulai putus asa, Yuqi datang dari balik pintu membawakan
ku sebuah kue coklat dan di atasnya tergantung angka 17 lalu muncul ayah dari
belakangnya membawa sebuah kotak besar, dan ternyata itu sebuah gitar! Dan kali
ini adalah gitar akustik yang indah. Tanpa pikir panjang aku memeluk ayah
sambil meneteskan air mata. Ibu pun memanggil untuk masuk kedalam rumah. Aku meniup
lilin itu dengan air mata, ia air mata bahagia. Ini takkan pernah bisa
terlupakan.
“kenapa kamu mengangis?”
Tanya ibu pelan
“aku hanya terharu. Aku
kira kalian tidak ingat hari kelahiranku”
“bagaimana mungkin ayah
bisa lupa, toh setiap tahun ayah selalu memberimu kado” sambung ayah cepat
“ada satu lagi kak kado
dari ayah” potong yuqi cepat
“apa itu ayah?”
“kamu beneran mau tau?”
“iya ayah serius laah”
“kamu mau tidak kuliah
ke luar negri?”
“luar negrinya dimana
yah?”
“Jerman” *jleb
jantungku serasa berhenti sedetik. Tidak percaya perkataan ayah barusan. Demi apapun
aku mau.
“serius yah?”
“serius dong. Mau tidak?”
“mauuu” tanpa berfikir
panjang aku memeluk ayah, berterima kasih dan berterima kasih. Tak pernah
terbayangkan olehku, ini memang yang takkan bisa terlupakan.
“tapi yah, kenapa beli
gitar lagi? Kan sudah ada”
“iya biar kita bisa
duel” sahut ayah sambil tertawa
“ayah, aku kan belum
mahir” jawab ku lesu
“yang jelas kamu kan
sudah hafal kunci dasarnya kan? Jangan menyerah dulu sebelum mencoba. Ingat yang
ayah bilang, perempuan hebat tidak putus asa”
Dan memang benar yang
ayah katakan. Demi apapun aku akan berusaha sekuat tenaga belajar. Karena manusia
itu tidak boleh berhenti belajar.
***
“Tika kesini bentar nak”
“ada apa yah?”
“kamu memang sudah siap
kan kuliah kesana?”
“sudah yah. Memang kenapa?
Ayah berubah pikirian?”
“ah tidak mungkin lah. Ayah
selalu mendukung kamu. Ayah hanya ingin memberi nasihat saja. Ayah sudah
berjuang habis-habisan untuk menyekolahkan kamu kesana. Ayah harap kamu bisa
membuat ayah bangga dan pulang dengan selamat”
“ayah, aku janji aku
pasti sukses. Ayah pernah bilang kalau anak ayah itu hebat. Anak ayah itu punya
kemauan yang keras. Karena anak ayah itu aku” sambil tersenyum aku
mengatakannya
“terima kasih nak. Kamu
sudah mau mendengarkan kata-kata ayah selama ini. Walaupun kadang-kadang ayah
sering sekali membuat kamu kesal, maklumi saja sifat ayah”
“ayah, aku pengen
ngomong deh, ayah dengar baik-baik ya..” diam sejenak
“ayah, aku bangga kok
jadi anak ayah, walaupun terkadang ayah sibuk sama urusan ayah, aku bisa
maklum, tapi satu hal yang ayah tidak sadar, sebenarnya ayah itu sangat
perhatian. Ayah selalu menelfon ku setiap jam 5 sore. Menanyakan kabarku, adik
dan mama. Selalu menanyakan aku sudah makan atau belum, alergi ku kumat atau
tidak, menanyakan apa saja yang akan aku dan adik minta ketika ayah pulang,
selalu seperti itu dari aku kecil. Walaupun ayah merasa ayah orang yang
pemarah, tapi ayah selalu minta maaf kan? Terutama dengan ku. Walau ayah suka
mencubit ku, ujung-ujungnya apa? Ayah yang minta maaf kan? Ayah, selama aku
hidup, mungkin kadang aku pernah menyesal tinggal bersamamu, tapi jika ku
fikirkan lagi kalaupun aku terlahir lagi di dunia, aku akan tetap memilih kau
sebagai ayah ku. Karena selama ini kau berada di sampingku, aku merasa hidup.”
Tanpa sadar aku
menyalami tangan ayah dan ayah mencium keningku. Mengucapkan terima kasih
kepadaku
“ayah sudah ikhlas kamu
pergi kuliah kesana sekarang. Kamu sudah dewasa sekarang. Tapi jangan pernah
berubah tetap jadi pikacu kecil ayah ya”
“aku nggak bakal
berubah yah. Terima kasih atas kepercayaannya yah, aku janji tidak
mengecewakanmu” sambil memeluk ayah
Bagitulah, aku sangat menyayangi
ayah, dari kecil hingga hari ini dia tetap sama. Ayahku yang menyayangiku
pikacu kecilnya. Meski terkadang cek cok mulut sering sekali terjadi di antara
kami, perbedaan paham yang tak pernah hilang, walau terkadang aku begitu kesal
akan kekerasan kepalanya tapi satu hal yang aku mengerti sejak lama; aku tak
jauh beda dari ayah. Bersama ayah, aku mengenal arti keberanian, kasih sayang,
amarah, keras kepala, bahagia, sedih, kejutan dan segalanya. Karena bersama
ayah, aku hidup.
THE END
write by @istiqasuwondo
Komentar