Langsung ke konten utama

bersama ayah, aku hidup #3 (end)


***
26 Agustus 2012

Bangun pagi, semua sibuk memberes-bereskan barang-barang. Maklumi saja, kami baru saja pulang dari kampung. Ibu terlihat sibuk memasak di dapur, ayah terlihat sibuk dengan baju-bajunya yang berantakan. Hari ini aku merasa ada sesuatu yang kurang, mereka tidak ingat ini hari ulang tahunku. Mereka sibuk masing-masing. Aku pun tak berniat untuk mengingatkannya. Sampai aku mendapatkan kejutan dari teman-teman ku, mereka datang membawakan kue ulang tahun yang kelihatannya sangat menggiurkan. Ayah dan ibu tak menghiraukannya. Mereka meminta izin untuk pergi, aku di tinggal dirumah sendirian. Mereka mengatakan akan pulang malam hari. Bagaimana tidak, ini hari ulang tahunku, mereka pergi dan sama sekali tidak mengingatnya, padahal tahun kemarin semuanya masih saja indah. Dan lebih tepatnya ini ulang tahun ku yang ke 17.
Setelah teman-temanku pulang, aku merapikan rumah membersihkannya. Menghidupkan lilin dan menghembusnya begitu berulang-ulang. Ayah, ibu dan adikku juga belum pulang padahal ini sudah pukul 8. Sempat aku menangis karena hal ini, tapi sudahlah ayah selalu mengatakan padaku, perempuan hebat itu tidak menangis.

“assalamua’laikum” terdengar suara ibu memanggil. Cepat-cepat ku buka kan pintu dan mengisikan secangkir air untuk mereka berdua. Tak ada tanda-tanda mereka ingat akan ulang tahun ku. Dan ketika aku sudah mulai putus asa, Yuqi datang dari balik pintu membawakan ku sebuah kue coklat dan di atasnya tergantung angka 17 lalu muncul ayah dari belakangnya membawa sebuah kotak besar, dan ternyata itu sebuah gitar! Dan kali ini adalah gitar akustik yang indah. Tanpa pikir panjang aku memeluk ayah sambil meneteskan air mata. Ibu pun memanggil untuk masuk kedalam rumah. Aku meniup lilin itu dengan air mata, ia air mata bahagia. Ini takkan pernah bisa terlupakan.
“kenapa kamu mengangis?” Tanya ibu pelan
“aku hanya terharu. Aku kira kalian tidak ingat hari kelahiranku”
“bagaimana mungkin ayah bisa lupa, toh setiap tahun ayah selalu memberimu kado” sambung ayah cepat
“ada satu lagi kak kado dari ayah” potong yuqi cepat
“apa itu ayah?”
“kamu beneran mau tau?”
“iya ayah serius laah”
“kamu mau tidak kuliah ke luar negri?”
“luar negrinya dimana yah?”
“Jerman” *jleb jantungku serasa berhenti sedetik. Tidak percaya perkataan ayah barusan. Demi apapun aku mau.
“serius yah?”
“serius dong. Mau tidak?”
“mauuu” tanpa berfikir panjang aku memeluk ayah, berterima kasih dan berterima kasih. Tak pernah terbayangkan olehku, ini memang yang takkan bisa terlupakan.
“tapi yah, kenapa beli gitar lagi? Kan sudah ada”
“iya biar kita bisa duel” sahut ayah sambil tertawa
“ayah, aku kan belum mahir” jawab ku lesu
“yang jelas kamu kan sudah hafal kunci dasarnya kan? Jangan menyerah dulu sebelum mencoba. Ingat yang ayah bilang, perempuan hebat tidak putus asa”
Dan memang benar yang ayah katakan. Demi apapun aku akan berusaha sekuat tenaga belajar. Karena manusia itu tidak boleh berhenti belajar.
***
“Tika kesini bentar nak”
“ada apa yah?”
“kamu memang sudah siap kan kuliah kesana?”
“sudah yah. Memang kenapa? Ayah berubah pikirian?”
“ah tidak mungkin lah. Ayah selalu mendukung kamu. Ayah hanya ingin memberi nasihat saja. Ayah sudah berjuang habis-habisan untuk menyekolahkan kamu kesana. Ayah harap kamu bisa membuat ayah bangga dan pulang dengan selamat”
“ayah, aku janji aku pasti sukses. Ayah pernah bilang kalau anak ayah itu hebat. Anak ayah itu punya kemauan yang keras. Karena anak ayah itu aku” sambil tersenyum aku mengatakannya
“terima kasih nak. Kamu sudah mau mendengarkan kata-kata ayah selama ini. Walaupun kadang-kadang ayah sering sekali membuat kamu kesal, maklumi saja sifat ayah”
“ayah, aku pengen ngomong deh, ayah dengar baik-baik ya..” diam sejenak
“ayah, aku bangga kok jadi anak ayah, walaupun terkadang ayah sibuk sama urusan ayah, aku bisa maklum, tapi satu hal yang ayah tidak sadar, sebenarnya ayah itu sangat perhatian. Ayah selalu menelfon ku setiap jam 5 sore. Menanyakan kabarku, adik dan mama. Selalu menanyakan aku sudah makan atau belum, alergi ku kumat atau tidak, menanyakan apa saja yang akan aku dan adik minta ketika ayah pulang, selalu seperti itu dari aku kecil. Walaupun ayah merasa ayah orang yang pemarah, tapi ayah selalu minta maaf kan? Terutama dengan ku. Walau ayah suka mencubit ku, ujung-ujungnya apa? Ayah yang minta maaf kan? Ayah, selama aku hidup, mungkin kadang aku pernah menyesal tinggal bersamamu, tapi jika ku fikirkan lagi kalaupun aku terlahir lagi di dunia, aku akan tetap memilih kau sebagai ayah ku. Karena selama ini kau berada di sampingku, aku merasa hidup.”
Tanpa sadar aku menyalami tangan ayah dan ayah mencium keningku. Mengucapkan terima kasih kepadaku
“ayah sudah ikhlas kamu pergi kuliah kesana sekarang. Kamu sudah dewasa sekarang. Tapi jangan pernah berubah tetap jadi pikacu kecil ayah ya”
“aku nggak bakal berubah yah. Terima kasih atas kepercayaannya yah, aku janji tidak mengecewakanmu” sambil memeluk ayah

Bagitulah, aku sangat menyayangi ayah, dari kecil hingga hari ini dia tetap sama. Ayahku yang menyayangiku pikacu kecilnya. Meski terkadang cek cok mulut sering sekali terjadi di antara kami, perbedaan paham yang tak pernah hilang, walau terkadang aku begitu kesal akan kekerasan kepalanya tapi satu hal yang aku mengerti sejak lama; aku tak jauh beda dari ayah. Bersama ayah, aku mengenal arti keberanian, kasih sayang, amarah, keras kepala, bahagia, sedih, kejutan dan segalanya. Karena bersama ayah, aku hidup.



THE END

write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...