Langsung ke konten utama

hanya 3 kata

I LOVE YOU

hanya itu yang bisa aku deskripsikan. tak banyak hanya tiga suku kata. sedikit, tapi bermakna. hanya karena tiga kata itu aku tertawa, hanya karena tiga kata itu aku menangis, hanya karena tiga kata itu aku murka, dan hanya ketiga kata itu aku memaafkan. yang menjadikan namamu objek dalam konsepsi otakku. tak banyak hal yang bisa aku jelaskan tentang tiga kata tersebut, tapi sedikitnya hatiku masih saja terkontaminasi olehmu. namamu sudah tercemar di seluruh peredaran darahku. berlebihan? aku hanya berbicara kejujuran.
mencintaimu, sulit. banyak rintangan yang harus aku lewati sebelum sampai di hatimu. mencintaimu saja sudah seperti ini rintangan yang terbentang apalagi ketika aku benar-benar ada di sampingmu? tapi tak apa, menurutku dengan mencintaimu aku bisa merasakan segalanya. jatuh, bangun sendiri menghadapi rintangan berkali-kali, aku sanggup. belum terpikir di benakku untuk berhenti sampai disini.
mungkin cintaku tak sedalam samudera, tapi aku pastikan aku hanya mencintaimu seorang. iya, hanya kau seorang. bahkan ketika mencintaimupun logikaku bisa saja lumpuh seketika. aku belum lelah mencitaimu.
aku tak bisa menggambarkan bagaimana kecintaanku, hanya saja bagiku sudah cukup mencintaimu seperti ini. nyata ataukah semu, toh orang lain tak merasakan bagaimana perasaan ku terhadapmu bukan?
jika mencintaimu itu terkadang sakit, tapi sampai hari ini aku masih bisa bertahan. jika menyebutku bodoh, setidaknya itu untukmu tak apalah.
aku mencintaimu tanpa ragu. seberapa banyak godaan datang menghadirkan ragu, sampai hari ini aku masih disini, bertahan menunggumu.
aku mempelajarimu sejak lama. setidaknya ada sedikit yang ku mengerti darimu. sesibuk apapun mereka bergeming kau tak lebih baik, toh aku maih bisa bertahan dan merasa kau tak lebih buruk seperti apa yang mereka pikirkan.
latar belakang ku disini karena "aku mencintai mu". tiga kata, hanya itu yang menjadikan segalanya menjadi sebuah alasan. logis atau pun absurd yang jelas begitulah sekiranya.
bagaimanapun sulitnya aku akan tetap seperti ini. dan bagaimanapun juga aku hanya menyimpan tiga kata untukmu, yang selalu aku rapalkan dalam doa "aku mencintai mu"
untuk kau lelaki yang di seberang sana
you know how much I miss you
write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...