Langsung ke konten utama

"just" thank you

kamu sudah membuatku mundur untuk mencari cinta yang lain. kamu membuat lemah semua detak jantungku. mencintaimu, sudah memiliki rasa sakit yang luar biasa. kau membuat aku tak berani menatap cinta yang indah lagi. aku mati rasa. hambar begitulah adanya.
mengingatmu, memecahkan pembuluh darahku. sesak yang kau ciptakan tak bisa lagi membuatku tertawa dengan kehadiran sosok lain. sulitku mengecap manisnya cinta, karena kau sudah merenggutnya sejak lama. kau egois! menikmatinya sendiri dan merusak lalu membuangnya begitu saja. luka yang kau torehkan, kau fikir aku sanggup menjalaninya sendiri? menatih aku untuk berdiri, luka ku cukup dalam bisa kau sebut sebagai luka abadi. tak hanya kau yang memilikinya, aku pun sama. aku takkan menyebut ulang bagaimana luka ini kau ciptakan, kau punya satu ruang untuk mengingat ini semua.

memaafkan? maaf aku bukan gadis berjiwa besar
mencintai? begitulah kebodohan selanjutnya
percaya? gelap, aku tidak melihat apa-apa tentang ini

bagaimana aku bisa menyebutkannya. kau seperti memberi garam pada semua luka ku. kau bukan seorang pria yang bisa memperbaiki sekeping hati yang sudah terluka ternyata, bahkan kau adalah seorang pria yang sangat bisa menebar luka. aku tidak ingin egois dalam mendeskripsikanmu. kau juga, dengan jujur ku katakan adalah satu-satunya pria yang memberi ku warna akan hidup. membuat ku merasakan jatuh dan bangun. membuat aku melambung setingggi-tingginya bahkan menghempaskan aku sekeji-kejinya. membuat aku mengerti bahagia dan rasa sakit. membuat aku percaya kekuatan sebuah genggaman tangan. aku tak ingin mendeskripsikan kebaikanmu terlalu banyak. hanya saja; -terima kasih sudah memberi ku kesempatan untuk merasakan 'jatuh cinta yang pertama kali'-

kembali ke topik awal. luka abadi yang kau semayamkan, kini benar-benar ada. hanya aku yang bisa merasakan bagaimana sakitnya goresan luka itu. bukan ingin berlebihan, kau benar ternyata 'kita harus merasakannya dahulu sebelum berbicara terlalu banyak' ternyata rasanya seperti ini; perih yang tak berkesudahan.





write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...