Langsung ke konten utama

hanya sepucuk surat

11 April 2013
hai, apa kabar? sudah lama sekali aku tidak menanyakan kabar mu. padahal jika di hitung-hitung jarak kita tak pernah lebih dari satu kilo meter. tapi sudahlah aku tak ingin membahas soal itu. 

oh iya, seminggu yang lalu, tiba-tiba kamu hadir lagi dalam pikiran ku. kamu tau tidak, satu menit saja sudah cukup membuat aku memutar segalanya. sejujurnya, aku tidak pernah ingin memutarnya, tapi entah alasan kenapa dan bagaimana, semuanya tumpah begitu saja. satu menit yang sudah mengacaukan keseharianku. tanpa aku sadari, aku membuka lemari kayu di sudut kamar, kotak berukuran sedang itu masih rapi mematung, tanpa berfikir panjang lagi aku mengambil dan membukanya. aroma kayu jati lama, dan bau kertas usang pun mulai memenuhi penciumanku. tanpa aku sadari, aku meneteskan bulir hangat. kotak yang masih sama, ku ambil beberapa kertas-kertas coretan yang pernah ku buat, membacanya satu per satu. ada beberapa yang membuat ku tak bisa berhenti tertawa dan ada juga beberapa yang sempat membuat ku terdiam. 

lalu kemudian, aku membuka album foto mini yang kau sudah tau, itu bercover abu-abu. di halaman pertama aku melihat tulisan tangan yang bertuliskan "you are my everything" lalu ku perhatikan satu per satu gambar-gambar yang tertempel disana. memang album itu tak pernah terisi penuh, tapi setidaknya ia memajang wajahmu disana. setelah aku puas memandangi wajah mu, ada satu buku yang sejak saat itu tak pernah berani ku sentuh lagi. buku bercover abu-abu. pertama dan mungkin terakhir. buku yang mungkin beberapa teman-teman ku sempat membacanya, atau bahkan kau juga pernah melihatnya? aku tidak tau. buku itu sudah ku selesaikan sejak lama, lama sekali. tapi, setelah aku menyelesaikannya, aku tak lagi pernah membukanya. dan seminggu yang lalu lah pertama kalinya aku membuka buku itu kembali.

ketika mengingatmu walau hanya semenit membuat deru nafas ku berpacu dua kali lipat dari biasanya. dan setelah ku perhatikan lebih dalam lagi, degupan jantungku juga masih sama seperti saat itu. menurut mu ini kenapa? ada yang salah? lagi-lagi aku menyapu habis semua pertanyaan itu.
bukannya aku mencintaimu seperti dulu, atau sedalam dulu. aku juga tidak mengerti. hatiku sudah penuh diisi oleh penggantimu, dia baik sekali. tapi apakah wajar, nama mu sesekali masih terselip?
aku tak berani mengatakan "tidak" padamu. apalagi harus mengatakan "iya". bagiku cukup seperti ini, kita tanpa sebuah tanya. lebih baik bukan? 

kala itu, aku seperti menangkap sebuah bintang. terang sekali. tapi satu hal yang aku mengerti, itu sulit dan hanya sebuah pengharapan. sama seperti dulu. dulu yang tak pernah ingin ku ingat. dulu yang tak pernah ingin ku bahas. tapi, dulu itu selalu muncul tanpa sepengetahuan ku, dan tanpa kendali ku. 

aku senang, seperti ini. tak ada lagi kita yang menyangkutkan masa lalu. tak ada lagi cinta yang membuat malu. tapi setidaknya jika boleh jujur, masih boleh kan aku merindukanmu? hanya merindukan. tidak lebih dan tidak kurang.

"bagiku, kau sudah sejak lama hilang dan tenggelam. bagiku, aku sudah sejak lama berlalu dan pergi. dan bagiku, kita tak lagi ada dalam nyata ataupun kenangan. karena bagiku kita TAK PERNAH ADA.  #AIS (24 Desember 2011)"
"luar biasa tuhan menciptakan hati. dalam sakit yang teredam, rindu masih bergejolak memanggil namamu. hai apa kabar? #AIS (22 Juni 2012)
"semenit kau hadir,ternyata degupan itu masih ada. semenit kau muncul, ternyata kau benar-benar ada. semenit yang ku kira tak berharga, ternyata luar bisa menggores kembali luka. ada yang salah dengan semenit mengingatmu? #AIS (4 April 2013)"


tanpa alasan, ini tertulis untukmu


write by @istiqasuwondo



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...