"siapa yang akan tau jika bungkam adalah cara ampuh kita memperlihat kan rasa? samar. siapa yang akan mengerti jika menghindar adalah jalan satu-satunya yang kita ambil? abu-abu. dan seperti kenyataannya samar dan abu-abu yang sejalan. seperti itukah kita?"
apa kau tau sajak hari apa aku mulai di setrum sengatan yang paling norak itu? kau mungkin tidak pernah sadar. kau mengetahui bagaimana cerita ku. banyak pria yang sudah berlalu lalang di hatiku, tapi semuanya samar. kau mengerti bukan? tipikal seperti aku tak pernah terlalu menggubris rasa norak itu secara berlebihan. dengan kata cukup aku melewatinya, walaupun terkadang mereka beranggapan itu kurang. tak masalah toh, kini yang ada hanya degupan kencang melebihi kenormalan detakan jantung manusia. kau tau itu kenapa? itu saat kau ada di sampingku.
kau dengan segala kekonyolan mu mengubah hari-hariku jadi sedikit lebih berwarna. aku biasanya, menyimpan rasa tanpa berani mengekspresikan apa yang aku rasakan. tapi bersama kamu aku bebas. aku berani bahkan sampai kau sendiri tak bisa merasakannya. singkat cerita, aku jatuh hati padamu. apa aku salah? kau tau alasan ku mengapa itu bisa sampai terjadi? mungkin aku punya alasan paling konyol yang akan kau tertawakan setelah kau baca cerita ini. itu hanya karena kedekatan kita yang tak sengaja. mungkin kala itu aku masih terlalu ge-er membaca sinyal yang kau berikan. aku juga sempat tidak mengerti mengapa degupanku, terus saja meronta ketika berbincang denganmu. kita memang tidak pernah terlibat pembicaraan yang serius. kau selalu saja dengan leluconmu menarik ulur hatiku. apakah aku salah, rasa norak yang di sebut orang cinta itu muncul? dan banyak juga orang jawa mengatakan "witing tresno jalaran seko kulino" yang berarti cinta itu datang karena terbiasa. apakah ini mungkin karena kita terbiasa tertawa bersama? apakah ini juga mungkin karena kita terbiasa bertengar berdua? atau apakah ini mungkin karena kita terbiasa saling memandang? sudahlah aku tak mengerti.
aku sudah jujur padamu, aku menyukaimu. sekarang giliranmu. apa yang kau rasakan sama seperti halnya dengan ku? kenapa dengan begitu mudah kau kabur, hilang. eh kamu dimana? pertanyaanku masih tergantung di batas samar. kau dengan segala sikap manis itu, dalam hitungan detik menepi, mencari jalan pulang. bukan kah kau sudah temukan jalan pulang bersamaku? atau aku kah yang terlalu mengharapkan itu terjadi? jadi maksudmu menghadirkan degupan kencang yang tak bisa ku hindarkan itu apa? jadi latar belakang mu mencemari peredaran darah ku dengan namamu apa?
aku mengerti, kau tak pernah membuka hati untuk orang lain. ataupun menjalin sebuah hubungan dengan seorang perempuan untuk saat ini. apa aku pernah minta lebih? tidak bukan? aku hanya meminta kejelasan apa maksud sikap manismu selama ini? aku perempuan, aku wajar merasa di perhatikan, jika kau begitu nyata mempertontonkan sikap manis itu. aku perempuan, aku wajar merasakan kegeeran yang luar biasa, jika kau dengan lembut menyebutkan namaku malam itu. adakah kesalahan fatal yang aku buat sehingga dengan begitu cepat kau membawa setengah hatiku kabur bersamamu? aku jatuh hati. iya, padamu.
untuk sekarang harus kah kita membentangkan garis dengan ketebalan yang tak dapat diukur? harus kah kita, kembali saling tidak mengenal lagi? kenapa sikapmu semakin terlihat kekanak-kanakan? bukankah kita sudah dewasa? tak seharusnya, dengan cara seperti ini kau menghindariku. kalau kau tidak memiliki rasa yang sama, seharusnya kau berterus terang. kau laki-laki. wajar bagimu untuk menunjukkan sebuah kejujuran yang bernilai. aku tidak pernah memintamu bertanggung jawab atas hatiku. kembalilah menjadi sosok yang ku kenal. jika tak bisa lagi semanis dulu, setidaknya sapa aku dengan kalimat yang menunjukkan bahwa aku adalah dan hanyalah seorang teman. tak masalah bukan? kau laki-laki tidak di lahirkan untuk menjadi pengecut yang hanya bisa berlari ketakutan ketika melihat hamparan ilalang kosong. kau laki-laki yang bisa membuat degupanku tercipta ketika bersama mu!!
untuk sekarang harus kah kita membentangkan garis dengan ketebalan yang tak dapat diukur? harus kah kita, kembali saling tidak mengenal lagi? kenapa sikapmu semakin terlihat kekanak-kanakan? bukankah kita sudah dewasa? tak seharusnya, dengan cara seperti ini kau menghindariku. kalau kau tidak memiliki rasa yang sama, seharusnya kau berterus terang. kau laki-laki. wajar bagimu untuk menunjukkan sebuah kejujuran yang bernilai. aku tidak pernah memintamu bertanggung jawab atas hatiku. kembalilah menjadi sosok yang ku kenal. jika tak bisa lagi semanis dulu, setidaknya sapa aku dengan kalimat yang menunjukkan bahwa aku adalah dan hanyalah seorang teman. tak masalah bukan? kau laki-laki tidak di lahirkan untuk menjadi pengecut yang hanya bisa berlari ketakutan ketika melihat hamparan ilalang kosong. kau laki-laki yang bisa membuat degupanku tercipta ketika bersama mu!!
kita sudah samar. tapi kau membuatnya semakin abu-abu. samar dan abu-abu yang sejalan
ditulis untuk laki-laki yang kini sudah menghilang
hai kamu sombong sekali. apa kabar?
recommended by LM
with love, itijonas
Komentar