Langsung ke konten utama

samar dan abu-abu yang sejalan

"siapa yang akan tau jika bungkam adalah cara ampuh kita memperlihat kan rasa? samar. siapa yang akan mengerti jika menghindar adalah jalan satu-satunya yang kita ambil? abu-abu. dan seperti kenyataannya samar dan abu-abu yang sejalan. seperti itukah kita?"

apa kau tau sajak hari apa aku mulai di setrum sengatan yang paling norak itu? kau mungkin tidak pernah sadar. kau mengetahui bagaimana cerita ku. banyak pria yang sudah berlalu lalang di hatiku, tapi semuanya samar. kau mengerti bukan? tipikal seperti aku tak pernah terlalu menggubris rasa norak itu secara berlebihan. dengan kata cukup aku melewatinya, walaupun terkadang mereka beranggapan itu kurang. tak masalah toh, kini yang ada hanya degupan kencang melebihi kenormalan detakan jantung manusia. kau tau itu kenapa? itu saat kau ada di sampingku.

kau dengan segala kekonyolan mu mengubah hari-hariku jadi sedikit lebih berwarna. aku biasanya, menyimpan rasa tanpa berani mengekspresikan apa yang aku rasakan. tapi bersama kamu aku bebas. aku berani bahkan sampai kau sendiri tak bisa merasakannya. singkat cerita, aku jatuh hati padamu. apa aku salah? kau tau alasan ku mengapa itu bisa sampai terjadi? mungkin aku punya alasan paling konyol yang akan kau tertawakan setelah kau baca cerita ini. itu hanya karena kedekatan kita yang tak sengaja. mungkin kala itu aku masih terlalu ge-er membaca sinyal yang kau berikan. aku juga sempat tidak mengerti mengapa degupanku, terus saja meronta ketika berbincang denganmu. kita memang tidak pernah terlibat pembicaraan yang serius. kau selalu saja dengan leluconmu menarik ulur hatiku. apakah aku salah, rasa norak yang di sebut orang cinta itu muncul? dan banyak juga orang jawa mengatakan "witing tresno jalaran seko kulino" yang berarti cinta itu datang karena terbiasa. apakah ini mungkin karena kita terbiasa tertawa bersama? apakah ini juga mungkin karena kita terbiasa bertengar berdua? atau apakah ini mungkin karena kita terbiasa saling memandang? sudahlah aku tak mengerti.

aku sudah jujur padamu, aku menyukaimu. sekarang giliranmu. apa yang kau rasakan sama seperti halnya dengan ku? kenapa dengan begitu mudah kau kabur, hilang. eh kamu dimana? pertanyaanku masih tergantung di batas samar. kau dengan segala sikap manis itu, dalam hitungan detik menepi, mencari jalan pulang. bukan kah kau sudah temukan jalan pulang bersamaku? atau aku kah yang terlalu mengharapkan itu terjadi? jadi maksudmu menghadirkan degupan kencang yang tak bisa ku hindarkan itu apa? jadi latar belakang mu mencemari peredaran darah ku dengan namamu apa? 
aku mengerti, kau tak pernah membuka hati untuk orang lain. ataupun menjalin sebuah hubungan dengan seorang perempuan untuk saat ini. apa aku pernah minta lebih? tidak bukan? aku hanya meminta kejelasan apa maksud sikap manismu selama ini? aku perempuan, aku wajar merasa di perhatikan, jika kau begitu nyata mempertontonkan sikap manis itu. aku perempuan, aku wajar merasakan kegeeran yang luar biasa, jika kau dengan lembut menyebutkan namaku malam itu. adakah kesalahan fatal yang aku buat sehingga dengan begitu cepat kau membawa setengah hatiku kabur bersamamu? aku jatuh hati. iya, padamu.

untuk sekarang harus kah kita membentangkan garis dengan ketebalan yang tak dapat diukur? harus kah kita, kembali saling tidak mengenal lagi? kenapa sikapmu semakin terlihat kekanak-kanakan? bukankah kita sudah dewasa? tak seharusnya, dengan cara seperti ini kau menghindariku. kalau kau tidak memiliki rasa yang sama, seharusnya kau berterus terang. kau laki-laki. wajar bagimu untuk menunjukkan sebuah kejujuran yang bernilai. aku tidak pernah memintamu bertanggung jawab atas hatiku. kembalilah menjadi sosok yang ku kenal. jika tak bisa lagi semanis dulu, setidaknya sapa aku dengan kalimat yang menunjukkan bahwa aku adalah dan hanyalah seorang teman. tak masalah bukan? kau laki-laki tidak di lahirkan untuk menjadi pengecut yang hanya bisa berlari ketakutan ketika melihat hamparan ilalang kosong.  kau laki-laki yang bisa membuat degupanku tercipta ketika bersama mu!!

kita sudah samar. tapi kau membuatnya semakin abu-abu. samar dan abu-abu yang sejalan


ditulis untuk laki-laki yang kini sudah menghilang
hai kamu sombong sekali. apa kabar?



recommended by LM
 
 
with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...