Langsung ke konten utama

masih tanda tanya

kita sudah tak sejalan lagi. sudah lama sekali. pemikiran kita tak menyatu seperti dulu. aku lebih sering membantahmu dan kau pun begitu lebih sering melontarkan kalimat yang menyayat nadi ku. kita memang sudah lama tak saling mengerti. sejak bertambahnya usia, bersamaan dengan waktu kita tak lagi seperti dulu. kita tak lagi sehangat dulu. harmonisasi indah yang sempat kita tunjukkan pada dunia kini musnah. aku tak lagi berjalan di belakang mu. dan kau tak lagi menggenggam jemariku. aku sudah dewasa. semakin bertambah kedewasaan ku semakin aku terlarut dalam dunia ku, tak menghiraukan mu lagi. kau pun begitu terlalu tenggelam dalam lingkaran kesibukanmu yang membuat komunikasi kita musnah dan rusak. tak ada sinyal kehidupan di diri kita. jiwa kita sudah salah.

aku tak pernah ingin mencoba memahami situasi yang terjadi di antara kita. aku mengacuhkannya. layaknya itu hanya sementara. kau juga seperti itu, bahkan sama sekali tidak ingin tahu dengan kondisi yang membingungkan ini. kau dengan jalanmu, aku pun begitu. tak ada lagi, genggaman hangat memelukku. tak ada kecupan ketika malam mulai merajai. kita sudah terpisah. bumi telah meminta kita menjarak. kau tak mengenalku. aku pun tak mengenalmu. dan kita tak saling mengenal lagi. sepertinya masa kita sudah selesai. apakah itu benar? tak ada terbesit di jiwaku untuk memperbaiki ini. karena menurutku ini bukan aku yang memiliki skenarionya. apa yang harus kita lakukan? kita seperti sudah mati. tak mengerti dan selalu berapi. dan sampai kapan kita harus seperti ini? Tuhan belum menjawab. kita jalankan semuanya masing-masing. kau tak perlu tau apa yang aku lakukan, apa yang aku rasakan, dan apa yang telah terjadi menimpa hidupku. begitu pun dengan ku. tak lagi mau tau dengan bisnis mu atau hal yang menyangkut kesibukanmu. sepertinya waktu harus memisahkan kita. bukan harus, tapi sudah sejak lama. kita tak pernah sejalan lagi. tak pernah sependapat lagi. di benak kita masing-masing, kita tak akan pernah mengakui dan mencari tau alasan yang menyebabkan kita seperti ini! 


jika memang harus seperti ini, lanjutkan saja
karakter kita memang sudah berbeda

di tulis untukmu, seseorang yang pernah ku anggap sebagai bagian hidupku
jika kau ingin pergi, pergilah bersama kenangan itu.
jika kau ingin memperbaikinya, mulai lah terlebih dahulu
aku tak meminta banyak hal, hanya saja bisa kita kembali seperti tahun 1995?


write by @istiqasuwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...