Langsung ke konten utama

sajak untuk sosial dua

sekarang semuanya tidak lagi bercerita tentang pertemuan
melainkan tentang perpisahan yang sudah di ambang pintu
tak ada lagi keseragaman putih abu-abu yang akan membaluti tubuh kita
kegiatan pagi hingga sore pun akan terasa jauh menjarak

kali ini, ucapan terima kasih sudah tertuang di benak masing-masing
bahkan kata maaf tak henti-hentinya keluar dari mulut pribadi
betapa tidak, seiring berputarnya bumi, waktu kita ternyata memiliki batas
sekali lagi kita berbicara bersama, kita terjebak kenangan!

ruangan kelas dengan ornamen sederhana, kita membuatnya seakan itu sebuah rumah
karpet berukuran sedang, takkan lagi ada yang mengisi ketika siang
kursi dan meja sudah ada yang akan menggantikan posisi kita
tak lama, sudah waktunya kita beranjak
seperti yang pernah kalian sebut 'saatnya baju di gantungkan'

ribuan memori, terukir satu per satu mengalir tiada henti
sesaat bergumam betapa cepat berlalunya sang waktu
keakraban dengan caranya mundur pelan-pelan
kebersamaan dengan aturannya meminta izin pulang sejenak

Dua puluh empat, kita manusia unik
Sosial dua, kita klasik

semegah apapun rembulan saat malam, takkan menghalau ku tuk mengingat kalian
secerca harapan terselip malu, menyibak nuansa kenangan hangat bersama
tak lama, kita takkan beriringan
senanar apapun aku melihatnya, semua takkan berubah
kita harus terpisah

hiduplah masing-masing
sukseslah semuanya
akan ada saatnya kita kembali pulang, bersama
menguatkan pondasi yang kini akan terasa goyah

sukseslah semuanya
akan tiba waktunya kita akan menangisi pertemuan selanjutnya
setidaknya, mengalir kehangatan akan cerita masa depan

sukseslah semuanya
seperti mimpi kita semua akan terwujudkan
mengabdilah pada tujuan kedepan
pastikan, kita yang terhebat
tapi satu hal yang ingin ku katakan
"ingatlah hari ini"

I LOVE YOU CASINO
I LOVE YOU SOCIAL TWO
THANK YOU FOR ALL THE SWEETEST MEMORIES
HOW MUCH MORE DO I TRY NOT TO MISS YOU GUYS,
BUT IN THE END I KNOW YOU'RE A PART OF ME

I LOVE YOU CASINO

I LOVE YOU SOCIAL TWO
EVEN THOUGH OUR TIME IS SHORT 
I UNDERSTAND SOMETHING THAT I WANNA TELL YOU FOR LONG TIME
"WE ARE INSEPARABLE. WE ARE INFINITE. WE ARE REMARKABLE."
AND THE LAST, THANK YOU FOR ALWAYS BE MY BEST FRIENDS.


with love,
30/04/2013
ANNISA ISTIQA SUWONDO

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...