Langsung ke konten utama

tak ku beri judul

"bukannya kau sudah hilang tapi masih tersimpan di dasar, paling dalam. yang kuncinya lupa entah kutaruh dimana. yang tidak ingin ku buka lagi. tapi, kau masih disana. Hati terdalam"

begitu banyak alasan ku untuk pergi. memilih menemukan kebahagiaan yang selama ini kau buang sesukamu. mengkontrol hati dan perasaan hingga ia mati seketika tak berkutik, berdarah dan tenggelam hitam. aku mengumpamakan ini seperti sebuah troli yang tak pernah berhenti berputar. ya, kira-kira begitulah ketika aku mencintaimu. menunggu kepulanganmu, itu mustahil. kadang aku mengerti, tak seharusnya aku terjebak terlalu lama. tapi, setidaknya masih adakah rasa mu tersisa untukku? bukankah kita melewati hari-hari bersama? walau tanpa ucapan sekalipun. setidaknya aku selalu memperhatikanmu, tidakkah kau melakukan hal yang sama?

mengapa harus seperti ini? mencintaimu saja sakit sekali. memang, bukan karena aku tidak bisa bersamamu, tapi lebih tepatnya karena sikapmu yang mematikan jiwaku. melewati ribuan pintu harapan, tak semuanya bisa ku buka dengan mudah. mati-matian aku berjuang pun nihil yang tercipta. daya ku apa? kau bagai pelangi indah di atas sana, aku hanya seorang anak manusia yang hanya mampu menatap keindahan itu, walaupun di dalam khayalku, aku mampu menyentuhnya. sekali lagi aku tersadar, itu tak nyata. iya, seperti kau yang ada tapi tak nyata untukku. seperti kau yang ada tapi tak sepenuhnya disampingku. jarak kita memang tak pernah lebih dari satu kilometer kala itu, tapi sekencang apapun aku berlari meraih tanganmu, aku tetap saja tidak mampu. aku memang sudah terluka berkali-kali saat itu. tapi, jika sekarang membuka kejujuran, luka itu masih bersemayam dengan indah disini, palung hati terdalam. salah? aku tidak menyalahkanmu. aku hanya menyalahkan waktu yang hingga saat ini pun tak memiliki kuasa apa-apa atas hatiku. aku tak menyalahkanmu. aku hanya menyalahkan degupan jantung ini, yang tak pernah berhenti berkelakuan abnormal ketika, aku atau seseorang menyebutkan namamu. aku bisa saja gila seketika. maksudku, kau pernah melihatnya bukan? sudahlah. kau sudah ku simpan rapi disini. tak ada alasan lagi kau bisa keluar. kau hanya ku simpan sebagai kenangan indah. pilu memang, tapi setidaknya kau mengajariku segala pertahanan hebat ini. iba pasti, melihatmu berjalan dengan gagahnya, menggandeng seseorang yang jauh melebihi ku. walau seperti itu setidaknya aku bisa mengatakan pada diriku sendiri "aku juga pernah di posisi itu. dulu" itu sudah cukup membuat batinku berhenti meronta.

pertahananku kini tak selemah dulu. kau tenang saja. sebagaimana seringnya kau dan teman-temanmu atau bahkan teman-temanku berusaha membuat ku iba, toh alhasil mereka hanya melihat senyumku. tak masalah bagiku apa yang mereka lakukan itu terkadang menyayat hatiku pelan-pelan. setidaknya aku memiliki obat untuk menyembuhkannya sendiri. tak usah kau tanya bagaimana caranya, itu hanya aku yang memiliki filosofinya.

menceritakan tentangmu memang takkan pernah ada habisnya. ribuan lembar pun takkan bisa menjelaskan bagaimana aku mencintaimu. aku memang tak lagi menunggu kepulanganmu dengan linangan iar mata pengharapan. aku percaya takdir, akan ada seseorang yang mengetuk pintu hatiku, dengan lembut tanpa luka. dan jika suatu saat nanti orang itu bukan kamu, aku takkan menghindar, berarti aku bukanlah kepingan rusukmu. tapi jika, Tuhan memiliki kehendak yang luar biasa mendatangkan mu kembali, mengetuk pintu hati yang telah usang ini, dengan ramah akan ku sambut, aku percaya jika di datangkan kembali, kaulah obat mujarab yang selama ini aku butuhkan. dan berarti jika itu benar, di masa depan aku bisa menyebutkan ternyata akulah tulang rusuk mu yang sempat retak. meski kini segalanya harus di Ikhlaskan atas nama Tuhan.

"seperti halnya setiap mawar memiliki duri, begitu juga dengan setiap hati memiliki luka"


with love, itijonas

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...