ini waktu yang sudah ku tunggu sejak lama. dimana semua tanda tanya yang selama ini kau simpan, kau ambangkan di bawah taburan bintang yang mengintip. waktu itu, hanya ada sepi dan dinginya malam yang menyeruak. hangat sebentar terkena hawa api unggun nan indah. dan ini waktunya kau sebut namaku. mungkin kali pertama setelah sekian lama. kau sebut namaku sekali lagi. terdiam sementara, menghirup nafas dengan dalam, dan kau sebut namaku sekali lagi...
"dan terakhir untuk kamu, pertama yang ingin aku sampaikan di kesempatan kali ini, ucapan maaf yang teramat untukmu. aku mengaku salah atas segala hal yang sempat menyakiti mu. demi apapun jujur, waktu itu, aku hanyalah seorang lelaki yang sedang labil, yang hanya mengerti kesenangan semata. dan aku juga merasa kamu pelan-pelan mulai menjauhiku. maaf, bukannya aku ingin kau mendekat terus. tapi, hanya saja itulah hal yang ku tanyakan."
kau berhenti sejenak. keheningan malam mulai amat terasa, gelak tawa yang tadi sirna seketika. membuat air mata ku tak berhenti meneteskan airnya yang menyesak untuk keluar. aku menggigit bibir bawah ku agar suara isakan itu tak terdengar. lalu kau melanjutkan sekali lagi percakapanmu. dan kau sebut nama ku sekali lagi
"buat aku, kamu orang yang baik, siapapun tau itu. dan satu yang ku yakini, kamu adalah seorang yang penyayang. tapi itu, hal yang kurang kusukai darimu, kamu terlalu berlebihan atas segala sesuatu. bukan maksudku menyalahkan hanya saja kau sebaiknya lebih berfikir lebih dewasa lagi, sebentar lagi kau akan kuliah jauh dari orang tua, apalagi dengan kami. tapi dari semuanya aku meminta maaf..."
dan kau berhenti. benar-benar berhenti. kau tak menyebut namu ku lagi. tidak sama sekali. aku terdiam berasama isakan tangis malam itu. tangisan yang ku yakini untuk kali pertamanya setelah mendengar ucapan yang langsung kau tujukan untukku. kau melihat ke arah ku sebentar. aku tau, tapi aku terlalu malu untuk melihat mu kembali, sekilas dalam gelapnya malam itu, samar ku lihat kau tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke depan api unggun yang sudah mulai menyusutkan apinya. aku, belum bisa menahan derasnya air mata yang mengalir, aku ingin menyanggah pertanyaanmu tadi, aku juga ingin mengatakan kejujuran yang bertumpuk di hatiku selama bertahun-tahun ini. tapi lidah ku kelu, air mataku hanya wakil dari segala perasaan buta ini.
setelah semuanya hampir tak bisa ku kontrol, salah satu teman menyerukan bahwa, aku memiliki senyum yang indah, mereka semua menunjuk tangan tanpa kecuali kamu, dengan gagah berani kau mengangkat kedua jempol mu sambil berkata "dari ku dua jempol" kau melirik ku dengan senyuman hangat, aku mulai tersenyum, air mata ku berhenti. ku pejamkan mata beberapa saat, dan saat itu ku yakini, ku Ikhlaskan kau atas nama Tuhan. aku tersenyum. kau tersenyum. kita tersenyum.
tak ada lagi beban yang mengganjal. sudah lebih dari cukup pengakuanmu, meski masih ada yang kau tutup. aku mengerti isyaratmu sudah bisa ku baca sejak lama. dan aku cukup berterima kasih atas itu. aku tenang. batinku tak meronta lagi. jiwaku memaafkan sudah sejak lama.
dalam malam menjelang terlelap, aku sudah bisa mengikhlaskan mu atas nama Tuhan. rasa yang selama ini ku simpan; namamu, ku serahkan kepada Tuhan. ku biarkan Dia mengaturnya. aku berjanji tak mengurusi kekacauan batin yang berulang-ulang menyebutkan namamu, aku pun juga tak membesitkan pikiran untuk mematikan rasa ini. ku berikan kepada Tuhan. ku pasrahkan Dia yang menuntunnya sampai kapan hati ini akan terus bertahan menyebutkan namamu. sedalam apapun kau ku simpan, celah ku untuk yang lain sudah ku berikan. aku tak bermain dengan perasaan, aku hanya belajar mengikhlaskan sesuatu yang seharusnya sudah sejak lama ku ikhlaskan. dan kini, di bawah taburan bintang, di bawah maha karya tangan Tuhan, aku mencintaimu sebelumnya, ku Ikhlaskan kau pergi atas nama Tuhan yang mencintaimu.
Terimakasih,
Bintang dan Bulan sudah menjadi saksi
Aku mengikhlaskan, kita sudah sejak lama berakhir
12 Mei 2013,
22.33 PM
Annisa Istiqa Suwondo
Komentar