Langsung ke konten utama

Ku Ikhlaskan atas nama Tuhan

ini waktu yang sudah ku tunggu sejak lama. dimana semua tanda tanya yang selama ini kau simpan, kau ambangkan di bawah taburan bintang yang mengintip. waktu itu, hanya ada sepi dan dinginya malam yang menyeruak. hangat sebentar terkena hawa api unggun nan indah. dan ini waktunya kau sebut namaku. mungkin kali pertama setelah sekian lama. kau sebut namaku sekali lagi. terdiam sementara, menghirup nafas dengan dalam, dan kau sebut namaku sekali lagi...

"dan terakhir untuk kamu, pertama yang ingin aku sampaikan di kesempatan kali ini, ucapan maaf yang teramat untukmu. aku mengaku salah atas segala hal yang sempat menyakiti mu. demi apapun jujur, waktu itu, aku hanyalah seorang lelaki yang sedang labil, yang hanya mengerti kesenangan semata. dan aku juga merasa kamu pelan-pelan mulai menjauhiku. maaf, bukannya aku ingin kau mendekat terus. tapi, hanya saja itulah hal yang ku tanyakan."

kau berhenti sejenak. keheningan malam mulai amat terasa, gelak tawa yang tadi sirna seketika. membuat air mata ku tak berhenti meneteskan airnya yang menyesak untuk keluar. aku menggigit bibir bawah ku agar suara isakan itu tak terdengar. lalu kau melanjutkan sekali lagi percakapanmu. dan kau sebut nama ku sekali lagi

"buat aku, kamu orang yang baik, siapapun tau itu. dan satu yang ku yakini, kamu adalah seorang yang penyayang. tapi itu, hal yang kurang kusukai darimu, kamu terlalu berlebihan atas segala sesuatu. bukan maksudku menyalahkan hanya saja kau sebaiknya lebih berfikir lebih dewasa lagi, sebentar lagi kau akan kuliah jauh dari orang tua, apalagi dengan kami. tapi dari semuanya aku meminta maaf..."

dan kau berhenti. benar-benar berhenti. kau tak menyebut namu ku lagi. tidak sama sekali. aku terdiam berasama isakan tangis malam itu. tangisan yang ku yakini untuk kali pertamanya setelah mendengar ucapan yang langsung kau tujukan untukku. kau melihat ke arah ku sebentar. aku tau, tapi aku terlalu malu untuk melihat mu kembali, sekilas dalam gelapnya malam itu, samar ku lihat kau tersenyum lalu mengalihkan pandangan ke depan api unggun yang sudah mulai menyusutkan apinya. aku, belum bisa menahan derasnya air mata yang mengalir, aku ingin menyanggah pertanyaanmu tadi, aku juga ingin mengatakan kejujuran yang bertumpuk di hatiku selama bertahun-tahun ini. tapi lidah ku kelu, air mataku hanya wakil dari segala perasaan buta ini. 
setelah semuanya hampir tak bisa ku kontrol, salah satu teman menyerukan bahwa, aku memiliki senyum yang indah, mereka semua menunjuk tangan tanpa kecuali kamu, dengan gagah berani kau mengangkat kedua jempol mu sambil berkata "dari ku dua jempol" kau melirik ku dengan senyuman hangat, aku mulai tersenyum, air mata ku berhenti. ku pejamkan mata beberapa saat, dan saat itu ku yakini, ku Ikhlaskan kau atas nama Tuhan. aku tersenyum. kau tersenyum. kita tersenyum.

tak ada lagi beban yang mengganjal. sudah lebih dari cukup pengakuanmu, meski masih ada yang kau tutup. aku mengerti isyaratmu sudah bisa ku baca sejak lama. dan aku cukup berterima kasih atas itu. aku tenang. batinku tak meronta lagi. jiwaku memaafkan sudah sejak lama.

dalam malam menjelang terlelap, aku sudah bisa mengikhlaskan mu atas nama Tuhan. rasa yang selama ini ku simpan; namamu, ku serahkan kepada Tuhan. ku biarkan Dia mengaturnya. aku berjanji tak mengurusi kekacauan batin yang berulang-ulang menyebutkan namamu, aku pun juga tak membesitkan pikiran untuk mematikan rasa ini. ku berikan kepada Tuhan. ku pasrahkan Dia yang menuntunnya sampai kapan hati ini akan terus bertahan menyebutkan namamu. sedalam apapun kau ku simpan, celah ku untuk yang lain sudah ku berikan. aku tak bermain dengan perasaan, aku hanya belajar mengikhlaskan sesuatu yang seharusnya sudah sejak lama ku ikhlaskan. dan kini, di bawah taburan bintang, di bawah maha karya tangan Tuhan, aku mencintaimu sebelumnya, ku Ikhlaskan kau pergi atas nama Tuhan yang mencintaimu. 



Terimakasih, 
Bintang dan Bulan sudah menjadi saksi
Aku mengikhlaskan, kita sudah sejak lama berakhir



12 Mei 2013,
22.33 PM


Annisa Istiqa Suwondo

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Buramnya Cermin Diri

Lebih dari sepuluh tahun lalu, aku menulis sebuah catatan yang lahir dari amarah remaja. Tulisan itu kuberi judul tak resmi, “Butuh Cermin? ini ambil!” . Ia muncul dari kegelisahan terhadap manusia-manusia yang mudah menghakimi tanpa mengenal. Sebuah renungan—atau mungkin, teriakan batin—yang menggambarkan bagaimana remaja memandang dunia yang terasa tak adil. “Terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain sampai-sampai lupa melirik cermin sendiri. Cenderung melihat sisi buruk orang lain tanpa mengerti pribadi masing-masing. Terlalu banyak mengeluarkan frasa-frasa yang hanya mengandung kontra. Apa itu baik?” Begitu aku menulisnya dulu. Pola pikir seperti itu, kataku, muncul dari manusia yang belum selesai dengan dirinya. Manusia yang terlalu cepat menilai, dan belum cukup jujur untuk melihat ke dalam dirinya sendiri. Aku menuliskan bahwa semua manusia punya celah, dan tidak ada satu pun yang berhak merasa paling benar. Aku juga berkata bahwa mengkritik orang lain tanpa refleksi diri ...

butuh cermin? ini ambil!!

Sering kali, kita terlalu sibuk memberi cermin kepada orang lain—menunjukkan kekeliruan, mengkritik, bahkan mencemooh—hingga lupa melirik cermin kita sendiri. Kita terbiasa melihat sisi buruk orang lain tanpa benar-benar memahami siapa mereka. Terlalu cepat menyimpulkan, terlalu ringan mengeluarkan frasa-frasa penuh kontra. Tapi, apakah itu bijak? Manusia memang tidak sempurna. Semua orang tahu itu—termasuk saya. Tidak ada seorang pun yang bebas dari kesalahan, dan saya pun termasuk di dalamnya. Lalu, apa yang sebenarnya layak diagungkan? Tak ada. Mengangkat-angkat kesalahan orang lain, membicarakannya seolah-olah kita lebih tahu, lebih benar, hanya menunjukkan bahwa kita belum selesai dengan diri sendiri. Jika kisah manusia lain seharusnya menjadi pelajaran atau ruang pemahaman, mengapa malah jadi bahan gunjingan? Memberikan cermin kepada orang yang melakukan kesalahan bisa jadi tindakan mulia, jika niatnya murni untuk membantu. Namun, jika terlalu asyik menyoroti orang lain tanpa s...

Permohonan untuk tidak datang kembali

teruslah berfikir akulah penyebab semua luka itu, agar hatimu kokoh untuk tidak lagi pulang ke sini.   Sebuah lembaran surat ini akan ku rangkai pelan-pelan berdasarkan perasaanku yang kian lama rusak. Aku berfikir, semua akan pulih jika kenangan itu dikubur dalam-dalam. Ku fikir meninggalkanmu adalah rencana paling baik untuk membuatmu kembali mencintaiku. Karena, kehilanganku adalah bentuk rasa rindu yang selalu berkecamuk dalam hatimu. Ku kira, kalimat itu akan berlaku lagi. Namun aku salah kaprah. Tak ada lagi sorot cinta itu walau hanya setitik. Tak ada lagi cinta yang ku banggakan hadir. Aku mengira ini akan sementara. Kita akan sementara berjarak dan merenung. Ternyata kita kebablasan begitu lama. Kau menghadiahiku dengan sebuah kejutan besar, yaitu benar-benar pergi dan menghilang pula. Saat itu hatiku kacau lagi. Kenapa aku menjilat ludahku sendiri. Kenapa strategi ini tak lagi berhasil. Ya, benar. Perasaan itu ternyata sudah kadaluarsa. Segitu hebatnya kata cinta yang...